SIDO Pangkas Target Pendapatan 2026, Destocking Rampung: Akankah Kinerja Pulih di Semester II?

SIDO
Ilustrasi. (Hasil AI/ChatGPT)
0 Komentar

Dengan kata lain, tantangan SIDO pada semester pertama lebih banyak terjadi pada sisi distribusi dan manajemen persediaan ketimbang perubahan struktural terhadap preferensi konsumen.

Manajemen menyampaikan bahwa proses normalisasi inventori atau destocking telah rampung pada akhir Mei 2026. Selepas proses tersebut, pemulihan penjualan diperkirakan berlangsung secara bertahap dengan menyesuaikan permintaan aktual di pasar.

Kondisi inilah yang membuat kinerja kuartal III 2026 menjadi periode penting untuk diperhatikan.

Baca Juga:Orasi Kewirausahaan UBTH 2026: Saatnya Generasi Muda Jadi Inovator, Investor, dan Pembuka Lapangan KerjaDEWA Siap Tancap Gas! Kontrak Sebuku Sejaka Coal Buka Peluang Kinerja Makin Cerah

Meski destocking telah berakhir, dampaknya ternyata lebih besar dibandingkan perkiraan awal perusahaan.

Manajemen sebelumnya memperkirakan pendapatan SIDO sepanjang 2026 dapat bergerak relatif datar dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, proyeksi tersebut kini direvisi.

Guidance pendapatan SIDO 2026 diturunkan dari sebelumnya flat menjadi sekitar minus 10 persen YoY.

Revisi tersebut mencerminkan besarnya dampak normalisasi persediaan sepanjang semester pertama.

Pada saat bersamaan, manajemen belum berencana melakukan kenaikan harga jual secara luas sebagai strategi untuk mengompensasi penurunan volume.

Artinya, ruang pemulihan pendapatan pada semester II kemungkinan akan lebih bergantung pada pertumbuhan volume dan membaiknya pembelian dari jaringan distribusi.

Di tengah tekanan pada bisnis herbal, segmen food and beverage (F&B) justru menunjukkan kinerja lebih kuat.

Pendapatan segmen F&B tumbuh sekitar 11 persen YoY selama semester I 2026, terutama didorong oleh pertumbuhan produk C Plus Collagen serta portofolio minuman siap konsumsi atau ready-to-drink.

Pertumbuhan itu membuat komposisi bisnis SIDO mengalami perubahan.

Baca Juga:Penjualan Ritel Juli 2026 Diproyeksi Tumbuh 0,9 Persen, Akhiri Tren Kontraksi 3 BulanKlaim BPJS Ketenagakerjaan Kini Bisa Online, Peserta Tasikmalaya Diminta Manfaatkan Lapak Asik

Segmen F&B kini menyumbang sekitar 51,8 persen dari total pendapatan, melampaui kontribusi segmen herbal yang berada di kisaran 43,6 persen.

Diversifikasi tersebut memberikan sumber pertumbuhan baru bagi perusahaan. Namun, pergeseran bauran produk juga membawa konsekuensi karena bisnis F&B memiliki tingkat margin laba kotor lebih rendah dibandingkan bisnis herbal.

Margin laba kotor SIDO sepanjang semester I 2026 turun menjadi sekitar 50,5 persen, dari 56,9 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Tekanan terhadap margin tidak hanya berasal dari perubahan komposisi pendapatan.

Turunnya volume bisnis herbal turut menyebabkan efek operating deleverage, yakni kondisi ketika biaya tetap harus ditanggung dengan volume produksi atau penjualan yang lebih rendah.

0 Komentar