Akibatnya, margin laba kotor segmen herbal turun menjadi sekitar 60,5 persen pada semester I 2026, dibandingkan 65,8 persen pada semester I 2025.
Untuk semester kedua, manajemen memperkirakan margin laba kotor konsolidasi relatif stabil di sekitar level semester pertama.
Peluang perbaikan tetap terbuka apabila volume penjualan herbal kembali meningkat sehingga bauran pendapatan bergeser menuju produk dengan margin lebih tinggi.
Salah satu titik terang lain datang dari bisnis internasional.
Baca Juga:Orasi Kewirausahaan UBTH 2026: Saatnya Generasi Muda Jadi Inovator, Investor, dan Pembuka Lapangan KerjaDEWA Siap Tancap Gas! Kontrak Sebuku Sejaka Coal Buka Peluang Kinerja Makin Cerah
Pendapatan internasional SIDO, di luar bisnis essential oils, tumbuh sekitar 28 persen YoY sepanjang semester I 2026.
Kontribusi ekspor terhadap total pendapatan juga meningkat menjadi sekitar 12,5 persen, dibandingkan 9,7 persen pada semester I 2025.
Malaysia dan Filipina menjadi dua pasar yang menopang ekspansi tersebut.
Di Malaysia, pertumbuhan terutama didukung oleh produk Kuku Bima Ener-G dari segmen F&B. Sementara di Filipina, produk Tolak Angin Care menjadi salah satu pendorong bisnis herbal.
Pertumbuhan ekspor dapat menjadi salah satu bantalan bagi SIDO ketika pasar domestik masih berada dalam fase pemulihan setelah destocking.
Tekanan terhadap kinerja fundamental turut membawa valuasi saham SIDO ke level yang secara historis tergolong rendah.
Berdasarkan data per Senin, 10 Agustus 2026, saham SIDO diperdagangkan pada sekitar 9,1 kali forward price-to-earnings ratio (P/E).
Valuasi tersebut berada di bawah dua standar deviasi dari rata-rata historis lima tahunnya.
Baca Juga:Penjualan Ritel Juli 2026 Diproyeksi Tumbuh 0,9 Persen, Akhiri Tren Kontraksi 3 BulanKlaim BPJS Ketenagakerjaan Kini Bisa Online, Peserta Tasikmalaya Diminta Manfaatkan Lapak Asik
Secara sekilas, kondisi tersebut membuat valuasi SIDO terlihat relatif murah. Namun, harga murah belum tentu langsung berarti risiko telah sepenuhnya tercermin.
Masih terdapat kemungkinan analis pasar melakukan pemangkasan terhadap estimasi laba bersih SIDO setelah perusahaan menurunkan guidance pendapatan 2026.
Apabila estimasi laba ikut turun, implikasinya bukan hanya terhadap valuasi saham, tetapi juga terhadap kemampuan perusahaan membagikan dividen dalam nominal yang sama seperti ekspektasi sebelumnya.
Karena itu, valuasi rendah perlu dibaca bersamaan dengan prospek pemulihan fundamental perusahaan.
Perhatian investor berikutnya kemungkinan tertuju pada kinerja kuartal III 2026.
Periode tersebut menjadi menarik karena merupakan kuartal penuh pertama setelah normalisasi inventori dinyatakan selesai pada akhir Mei.
Jika sell-in mulai bergerak mendekati tren sell-out, hal itu dapat menjadi sinyal awal bahwa tekanan dari destocking benar-benar telah berakhir dan jalur distribusi kembali melakukan pemesanan berdasarkan kebutuhan pasar.
