Penjualan Ritel Juli 2026 Diproyeksi Tumbuh 0,9 Persen, Akhiri Tren Kontraksi 3 Bulan

Penjualan Ritel
Ilustrasi. (Hasil AI/ChatGPT)
0 Komentar

JAKARTA, RADARTASIK.ID – Penjualan ritel Indonesia diperkirakan mulai menunjukkan perbaikan pada Juli 2026 setelah mengalami kontraksi secara tahunan selama tiga bulan berturut-turut.

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan penjualan ritel pada Juli 2026 tumbuh 0,9 persen secara tahunan atau year on year (YoY).

Meski demikian, secara bulanan penjualan ritel diperkirakan masih mengalami kontraksi sebesar 0,3 persen month on month (MoM). Pergerakan tersebut mencerminkan adanya normalisasi permintaan setelah periode hari besar keagamaan nasional (HBKN) dan libur sekolah.

Baca Juga:Klaim BPJS Ketenagakerjaan Kini Bisa Online, Peserta Tasikmalaya Diminta Manfaatkan Lapak AsikCuma Rp 36.800 Per Bulan, Pekerja Informal Tasikmalaya Bisa Dapat 3 Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan

Dilansir Stockbit, berdasarkan proyeksi BI, pertumbuhan penjualan ritel secara tahunan pada Juli 2026 terutama ditopang oleh meningkatnya penjualan pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Selain itu, pertumbuhan positif juga diperkirakan berasal dari kelompok suku cadang dan aksesori serta perlengkapan rumah tangga lainnya.

Namun, apabila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, aktivitas penjualan ritel pada Juli diperkirakan sedikit melemah. BI memperkirakan kontraksi bulanan tersebut terjadi karena permintaan masyarakat kembali normal setelah sebelumnya mendapatkan dorongan dari momentum HBKN dan periode libur sekolah.

Penjualan Ritel Juni Masih Tertekan

Sementara itu, realisasi penjualan ritel pada Juni 2026 masih mencatatkan kontraksi secara tahunan. BI mencatat penjualan ritel turun 3 persen YoY pada periode tersebut.

Meski masih berada di zona negatif secara tahunan, kinerja bulanan menunjukkan perbaikan. Penjualan ritel pada Juni tumbuh 0,7 persen MoM, berbalik dari kontraksi 1,5 persen MoM pada Mei 2026.

Dengan demikian, kontraksi tahunan pada Juni menjadi yang ketiga secara beruntun. Sebelumnya, penjualan ritel pada Mei 2026 tercatat turun 3,9 persen YoY.

Kinerja Juni tersebut sebenarnya lebih baik dibandingkan perkiraan BI sebelumnya. Bank sentral memperkirakan penjualan ritel pada Juni akan terkontraksi 4,4 persen YoY dan 0,8 persen MoM.

Baca Juga:Laba Bersih ITMG Tumbuh 17 Persen pada Semester I 2026, Harga Minyak Jadi TekananInvestor Tembus 28 Juta, Wamenkeu Dorong Pasar Modal Indonesia Makin Dalam dan Likuid

Perbaikan dibandingkan proyeksi tersebut memberikan indikasi bahwa aktivitas konsumsi masyarakat masih memiliki ruang untuk tumbuh meskipun tekanan terhadap penjualan ritel belum sepenuhnya berakhir.

Proyeksi pertumbuhan 0,9 persen YoY pada Juli menjadi sinyal positif bagi sektor konsumsi domestik. Jika terealisasi, angka tersebut akan mengakhiri tren kontraksi tahunan yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut.

Kinerja kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu faktor penting yang menopang prospek penjualan ritel pada Juli. Sementara itu, pertumbuhan pada kelompok suku cadang dan aksesori serta perlengkapan rumah tangga lainnya turut memberikan dukungan terhadap kinerja sektor ritel.

0 Komentar