Investor Tembus 28 Juta, Wamenkeu Dorong Pasar Modal Indonesia Makin Dalam dan Likuid

Pasar Modal Indonesia
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung berbicara di acara peringatan HUT ke-49 Kebangkitan Pasar Modal Indonesia yang digelar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (10/8/2026). (Dok. Kemenkeu)
0 Komentar

JAKARTA, RADARTASIK.ID – Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mendorong percepatan pendalaman pasar keuangan nasional agar semakin mampu menjadi salah satu tumpuan utama pembiayaan pembangunan Indonesia.

Dorongan tersebut disampaikan Juda Agung dalam peringatan HUT ke-49 Kebangkitan Pasar Modal Indonesia yang digelar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (10/8/2026).

Menurut Juda, pasar modal memiliki posisi strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, terutama sebagai sumber pembiayaan bagi sektor swasta. Pasar modal juga berperan menghubungkan kebutuhan pendanaan korporasi dengan dana yang dimiliki masyarakat.

Baca Juga:BPJS Ketenagakerjaan dan UPI Perkuat Perlindungan Mahasiswa hingga Pegawai Non ASN, Ekosistem Lebih AmanBPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kejaksaan Perkuat Kepatuhan Perusahaan, Pekerja Mesti Dapat Jaminan Sosial

Ia menilai keberadaan pasar modal dapat menyediakan sumber pembiayaan yang efisien, transparan, dan berkeadilan. Karena itu, pemerintah mendorong terciptanya pasar modal Indonesia yang semakin dalam, likuid, terpercaya, dan kredibel.

Dengan kondisi tersebut, pasar modal diharapkan mampu menjalankan fungsi intermediasi secara optimal, terutama dalam memfasilitasi investasi sekaligus mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Juda mengungkapkan bahwa pasar modal Indonesia telah menunjukkan perkembangan positif. Sepanjang semester I 2026, penghimpunan dana melalui pasar modal telah mencapai lebih dari Rp 125 triliun.

Di sisi lain, jumlah investor pasar modal juga telah mencapai sekitar 28 juta investor. Meski mencatatkan perkembangan tersebut, Juda mengingatkan pelaku industri agar tidak cepat berpuas diri.

Menurutnya, masih terdapat sejumlah pekerjaan yang perlu dilakukan untuk memperkuat pasar modal nasional. Upaya tersebut antara lain memperluas basis investor, memperkaya pilihan instrumen investasi, meningkatkan likuiditas, serta memperkuat tata kelola pasar modal.

Pemerintah, lanjut Juda, menyambut positif agenda reformasi yang tengah dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI). Reformasi tersebut mencakup penguatan likuiditas, peningkatan transparansi, penguatan tata kelola, hingga pendalaman pasar.

Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia.

Baca Juga:HUT RI Ke-81 Makin Meriah, Gus Wafa Gelar Lomba Memancing Ibu-Ibu yang Bikin Warga Cipari Cilacap AntusiasBukan Sekadar Lomba, AHSRIC 2026 Uji Instruktur Honda Terbaik Indonesia untuk Wujudkan Jalan Raya Lebih Aman

ETF Emas Jadi Langkah Perluasan Instrumen

Dalam kesempatan yang sama, Juda Agung turut mengapresiasi peluncuran Exchange-Traded Fund (ETF) Emas. Instrumen tersebut dinilai menjadi salah satu langkah konkret dalam memperluas pilihan investasi sekaligus memperkuat likuiditas pasar modal Indonesia.

Juda melihat tren ETF berbasis emas juga berkembang di pasar modal global. Pada 2025, aset kelolaan ETF emas global tercatat mencapai sekitar US$559 miliar, dengan kepemilikan emas mencapai 4.025 ton.

0 Komentar