Sebagai pembanding, TINS menetapkan dividend payout ratio sebesar 50 persen untuk tahun buku 2025. Data resmi perseroan menunjukkan dividen tahun buku tersebut sebesar Rp 88,189 per saham dengan pembayaran pada 10 Juli 2026.
Jika laba bersih 2026 benar-benar mencapai estimasi konsensus sekitar Rp 4,5 triliun, potensi nominal dividen akan meningkat cukup signifikan.
Dengan menggunakan skenario harga saham Rp 3.900 per lembar dan dividend payout ratio sekitar 50 persen–60 persen, estimasi dividen berada di kisaran Rp 305–Rp 366 per saham.
Skenario tersebut setara dengan dividend yield sekitar 7,8 persen hingga 9,4 persen.
Baca Juga:Motor Jarang Dipakai? Jangan Langsung Ditinggal, Ini 5 Cara agar Tetap PrimaRaih 444 Suara, Tantan Sulthon Bukhawan Pimpin PWI Jabar 2026–2031, Oland Sibarani Ketua DK
Namun, angka tersebut tetap merupakan simulasi, bukan kepastian pembagian dividen. Besarnya dividen aktual akan bergantung pada laba bersih final, kebutuhan investasi perusahaan, kondisi kas, hingga keputusan pemegang saham.
Ada sejumlah faktor yang dapat membuat performa TINS melampaui ekspektasi saat ini.
Pertama adalah tambahan volume produksi apabila penambahan RKAB di Belitung memperoleh persetujuan dan empat kapal isap produksi baru mulai beroperasi.
Kedua, struktur biaya dapat membaik apabila tekanan harga BBM berkurang dan pengeluaran spare part kembali normal setelah aktivitas pemeliharaan smelter pada kuartal sebelumnya.
Ketiga, dividend payout ratio yang meningkat di atas 50 persen dapat memperkuat daya tarik TINS sebagai saham dengan potensi dividend yield tinggi.
Kemampuan menjaga margin juga menjadi faktor penting. Stockbit menilai TINS telah menunjukkan kemampuan mempertahankan margin laba dalam tiga kuartal terakhir, sehingga pertumbuhan laba tidak semata-mata harus bergantung pada lonjakan volume produksi.
Prospek yang positif bukan berarti TINS bebas risiko. Salah satu faktor terbesar tetap berasal dari harga komoditas timah global.
Baca Juga:SIDO Pangkas Target Pendapatan 2026, Destocking Rampung: Akankah Kinerja Pulih di Semester II?Orasi Kewirausahaan UBTH 2026: Saatnya Generasi Muda Jadi Inovator, Investor, dan Pembuka Lapangan Kerja
Dalam catatan analisis Stockbit, konsensus Bloomberg memperkirakan harga timah pada 2027 berada di sekitar US$44.750 per ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan harga spot sekitar US$55.770 per ton yang digunakan dalam catatan analisis tersebut.
Jika harga timah melemah signifikan pada 2027, pasar dapat menilai laba TINS pada 2026 sebagai bagian dari puncak siklus komoditas. Kondisi semacam itu dapat membatasi seberapa jauh investor bersedia memberikan valuasi lebih tinggi terhadap saham TINS meskipun laba tahun berjalan melonjak.
