Dengan kata lain, angka 40 kasus positif dari 808 pemeriksaan LSL tidak otomatis berarti seluruhnya merupakan bagian dari komunitas homoseksual atau LGBT.
Di sinilah persoalan menjadi pelik. Data epidemiologis seharusnya dipakai untuk menentukan strategi pencegahan, bukan dipelintir menjadi stempel sosial.
Asep menilai jika kelompok tertentu terus didiskriminasi, mereka justru akan semakin menjauh dari layanan kesehatan.
Baca Juga:Vendor Nunggak Setoran Retribusi , Dewan Minta Kerja Sama Parkir Dishub Kota Tasikmalaya DievaluasiPenularan HIV/Aids di Kota Tasikmalaya Masih Didominasi LGBT! Hasil Pemeriksaan 808 LSL , 40 Orang Positif
“Kalau kita tinggalkan mereka, kita enggak bisa mencegah penularan lebih masif lagi,” katanya.
Selain pendekatan kesehatan, Asep menilai penguatan keluarga menjadi bagian penting dalam pencegahan. Ia menyinggung kondisi keluarga yang tidak utuh dan minimnya kehadiran figur orang tua sebagai salah satu hal yang menurutnya perlu diperhatikan.
Namun, faktor tersebut tidak semestinya disederhanakan sebagai penyebab tunggal perubahan perilaku seseorang.
Menurut Asep, penguatan keluarga perlu berjalan bersama peningkatan literasi digital. “Kenapa ketahanan keluarga itu penting? Semuanya berawal dari sana,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat tidak terjebak pada perdebatan identitas, melainkan memperkuat norma, edukasi dan pemahaman mengenai risiko kesehatan.
Sebab, dalam urusan HIV, persoalannya bukan sekadar siapa yang terinfeksi, tetapi bagaimana rantai penularan dapat diputus.
Asep mencontohkan Thailand yang dinilainya lebih agresif dalam skrining, pencegahan dan pengobatan HIV. Menurut dia, pendekatan kesehatan masyarakat yang kuat dapat menekan munculnya kasus baru meskipun kasus aktif masih ditemukan.
Baca Juga:RAJA PLT!Setoran Tidak Sesuai Target, Vendor Parkir di Kota Tasikmalaya Nunggak Retribusi
“Kalau orang mau melakukan itu, Anda harus pakai ini. Kalau enggak pakai enggak bisa. Di Thailand sudah begitu,” katanya.
Bagi Kota Tasikmalaya, tantangannya pun akhirnya bukan sekadar menghitung angka positif.
Sebab, jika stigma lebih cepat menyebar daripada edukasi, maka yang tumbuh bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga tembok sosial. Dan ketika tembok itu sudah berdiri, tenaga kesehatan justru akan semakin sulit mengetuk pintunya. (Rezza Rizaldi)
