8 Peristiwa Kebakaran Lahan Terjadi dalam Sehari di Garut

Pemadaman
Petugas Disdamkar Kabupaten Garut saat melakukan pemadaman api yang membakar lahan. (Damkar Garut)
0 Komentar

GARUT, RADARTASIK.ID – Dampak musim kemarau sudah dirasakan masyarakat seperti sulitnya mendapatkan air bersih hingga kebakaran.

Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) Kabupaten Garut mencatat, lonjakan kasus kebakaran lahan yang signifikan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.

Pada Rabu 12 Agustus 2026, petugas Disdamkar Kabupaten Garut harus berjibaku menangani 8 titik kebakaran lahan yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Garut.

Baca Juga:Dorong Jalan Pamegatan-Singajaya Garut Masuk Status Jalan ProvinsiKawasan Pasar Baru Garut Akan Direnovasi, PKL Dipindahkan Sementara

Kepala Disdamkar Kabupaten Garut Usep Basuko Eko mengungkapkan bahwa mayoritas peristiwa kebakaran tersebut dipicu oleh faktor manusia.

Ia menerangkan, salah satu hal yang sering ditemukan yakni warga yang membakar sampah atau limbah kebun tanpa pengawasan.

“Dari delapan kejadian kebakaran lahan yang kami tangani dalam sehari, tujuh di antaranya murni dipicu oleh kelalaian warga yang meninggalkan sisa pembakaran sampah dan limbah kebun begitu saja,” ucapnya, Kamis 13 Agustus 2026.

Eko menjelaskan, beberapa insiden di antaranya berdampak cukup masif dan sempat mengancam fasilitas umum serta area pemukiman padat penduduk.

Ia menjelaskan, di Kecamatan Leles, kebakaran lahan gambut masif seluas 3 hektare terjadi di area PT Changsin.

Kejadian ini memaksa Disdamkar mengerahkan 5 unit armada pemadam dengan proses pemadaman yang memakan waktu hingga 3,5 jam.

Sementara itu, di Kecamatan Cibalong, kobaran api merembet liar hingga nyaris menghanguskan pabrik karet seluas 3.000 meter persegi.

Baca Juga:Penerangan Jalan Umum Mati, Jalur RTA Prawira Adiningrat Tasikmalaya Dinilai Rawan KecelakaanSiap-Siap! Bakal Ada Mudik Gratis di Garut, Segini Kuota yang Tersedia

“Kasus serupa terjadi di Cikelet, di mana sisa pembakaran sampah merambat dan hampir melahap bengkel milik warga,” katanya.

Sementara itu di Kecamatan Banyuresmi, aktivitas pembakaran sisa panen jagung yang tertiup angin kencang membuat warga Perum Otista Village panik lantaran kobaran api terus mendekati kawasan perumahan.

Selain itu, empat kejadian serupa juga terjadi di hari yang sama di wilayah Pameungpeuk, Cihurip, Singajaya, dan Cibiuk.

“Semuanya dipicu oleh pembakaran sampah tak terawasi hingga mengancam pemukiman warga,” katanya.

Menyikapi kondisi tersebut, Eko menegaskan bahwa faktor cuaca terik dan hembusan angin kencang menjadi katalisator utama yang mempercepat penyebaran api secara masif.

“Hembusan angin saat ini sangat kencang dan bertindak sebagai katalisator. Bara api kecil yang terbawa angin bisa menerbangkan percikan dan memicu kebakaran besar di tempat lain hanya dalam hitungan detik,” lanjutnya.

0 Komentar