Enjang Why Not!

Enjang
Enjang Belawini, Ketua DPC PPP Kota Tasikmalaya.
0 Komentar

Apakah PPP akan berkata: “Karena kursi kami lebih banyak, Enjang calon wali kota.”Lalu Gerindra menjawab: “Baik. Kami wakil.” Atau justru sebaliknya?

Gerindra tetap memegang kendali. Tetap ingin menjadi calon wali kota. PPP cukup menjadi pasangan. Itulah politik. Semua mungkin.

Termasuk sesuatu yang hari ini terdengar tidak mungkin. Karena dalam politik, jumlah kursi bisa mengubah cara orang berbicara.

Baca Juga:Prabowo, KDM (part8): Menyiapkan Pilihan Cadangan Sebagai Aset Politik Masa DepanPrabowo, KDM (part 6): Merangkul untuk Mengendalikan!

Yang hari ini datang sebagai tamu, besok bisa datang membawa syarat. Yang hari ini meminta dukungan, besok bisa diminta mendukung.

Dan yang hari ini menjadi calon wakil, bisa saja besok meminta menjadi calon wali kota.

Maka target 15 kursi PPP Kota Tasikmalaya menarik dibaca dari dua arah. Arah pertama: Pileg 2029. Arah kedua: Pilwalkot 2029.

Di depan, PPP mengatakan sedang membangun mesin partai. Itu benar. Tetapi di balik mesin tersebut ada kemungkinan kendaraan politik.

Dan kendaraan itu bisa saja bernama Enjang Bilawini. Uu sudah memberikan rumusnya. 15 kursi, maka ketua DPC diprioritaskan.

Enjang pun sudah memberikan jawabannya. “Why not.” Sekarang tinggal satu pertanyaan yang lebih sulit.

Bisakah PPP mengumpulkan 15 kursi Sebab kalau angka itu tercapai, peta Pilwalkot Tasikmalaya bisa berubah.

Baca Juga:Bambu Apus BerceritaPrabowo, KDM (part 5): Sandi Yudha sebagai Strategi Politik!

Bahkan hubungan romantis PPP-Gerindra bisa diuji oleh satu hal yang paling tidak romantis dalam politik: perhitungan kursi.

Dan di situlah menariknya membaca PPP hari ini. Mereka tidak hanya sedang memilih pengurus PAC. Mereka mungkin sedang memilih siapa yang akan mengetuk pintu Bale Kota Tasikmalaya pada 2029. (red)

0 Komentar