Kalau mesin itu hidup, 15 mungkin bukan angka yang mustahil. Kalau mesinnya hanya terdengar ketika musyawarah, 15 bisa menjadi angka yang sangat mahal.
Di sinilah menariknya politik PPP Kota Tasikmalaya. Partai ini sedang mencoba membangun kembali dirinya. Struktur dibenahi. Pengurus digerakkan. Soliditas dibangun. Daya juang dihidupkan lagi.
Enjang sendiri memilih tidak terlalu jauh berlari. Ia merespons dorongan Uu dengan santai.
Baca Juga:Prabowo, KDM (part8): Menyiapkan Pilihan Cadangan Sebagai Aset Politik Masa DepanPrabowo, KDM (part 6): Merangkul untuk Mengendalikan!
“Itu harapan ke depan ya. Nanti kita lihat dulu hasil legislatif. Kalau hasil legislatif memungkinkan, why not, kenapa tidak?” kata Enjang.
Tetapi politik memang sering bekerja dari kalimat pendek. Why not? Artinya pintu tidak ditutup. Hanya belum dibuka penuh.
Enjang juga tahu bahwa terlalu cepat bicara Pilwalkot bisa menjadi jebakan. Karena pekerjaan PPP sekarang bukan memenangkan Pilwalkot. Pekerjaan pertamanya adalah memenangkan Pileg.
Maka Enjang menyebut agenda utama PPP saat ini adalah memperkuat mesin partai menghadapi Pemilu 2029.
“Strukturalisasi partai, kemudian soliditas pengurus, kemudian daya gerak, daya juang, gairah teman-teman pengurus barangkali harus dibentuk,” katanya.
Itulah sebabnya Muscab PAC menjadi penting. PAC adalah ujung. Ranting lebih ujung lagi. Di sanalah politik bertemu dengan masyarakat.
Bukan di baliho. Bukan di gedung rapat.Bukan pula di media sosial. Tetapi di rumah-rumah, warung, masjid, pasar, komunitas, dan pertemuan warga. Di situlah 15 kursi sebenarnya diperjuangkan.
Baca Juga:Bambu Apus BerceritaPrabowo, KDM (part 5): Sandi Yudha sebagai Strategi Politik!
Lalu ada satu peta lain yang lebih menarik.Gerindra. Hubungan PPP dan Gerindra Kota Tasikmalaya belakangan sedang cair. Bahkan bisa disebut sedang romantis.
Setelah pergantian kepengurusan DPC PPP Kota Tasikmalaya, hubungan kedua partai terlihat semakin terbuka.
PPP kini dipimpin Enjang Bilawini, dengan Riko Restu Wijaya sebagai bagian penting dalam kepengurusan baru.
Gerindra dan PPP bukan pasangan yang aneh. Keduanya pernah berada dalam satu perahu politik. Dan kemungkinan bekerja sama kembali pada Pilwalkot 2029 tetap terbuka.
Tetapi politik mempunyai satu kebiasaan buruk. Romantis hari ini belum tentu romantis lima tahun kemudian. Apalagi kalau sudah berbicara kursi.
Bayangkan saja. PPP benar-benar berhasil mencapai 15 kursi. Gerindra, misalnya, berada di bawah angka itu. Pertanyaannya kemudian sederhana. Siapa yang menjadi calon wali kota?.
