Karena itu, Musda akhir Agustus ini sesungguhnya bukan hanya mencari pengganti Erry Purwanto. Musda sedang mencari generasi berikutnya.
Erry sudah menyelesaikan dua periode. Ia meninggalkan ukuran yang tidak terlalu mudah dihapus: tujuh kursi DPRD.
Siapa pun penggantinya akan menerima pekerjaan rumah yang cukup jelas. Jangan sampai tujuh menjadi enam. Kalau bisa jangan berhenti di tujuh. Dan kalau berani, tentu harus menambah.
Baca Juga:Jejak Panjang Nandang Suryana!KADIN Kota Tasikmalaya! Kursi Belum Diperebutkan, Tapi Bayangannya Sudah Ada
Di sinilah nama Arief Arseha dan Aang Budiana menjadi menarik untuk diamati.Keduanya belum tentu maju. Belum tentu pula mendapatkan dukungan mayoritas.
Tetapi kalau nama mereka sudah mulai disebut, berarti ada sesuatu yang sedang bergerak. Dalam politik, nama yang mulai disebut adalah semacam asap.
Belum tentu ada api. Tetapi tidak ada asap kalau tidak ada sesuatu yang sedang dibakar. Musda baru akhir Agustus ini.Masih cukup waktu. Cukup panjang untuk lobi. Cukup panjang untuk silaturahmi. Cukup panjang untuk mengukur dukungan.Dan cukup panjang pula untuk membuat nama ketiga muncul.
Sebab di Golkar, beringin memang pohonnya satu. Tetapi cabangnya banyak. Dan menjelang Musda, semua cabang biasanya mulai mencari arah cahaya.
Siapa yang akhirnya duduk di kursi Ketua DPD Golkar Kabupaten Tasikmalaya? Untuk sementara, Arief dan Aang baru dua nama yang mulai terdengar. Pertarungan sesungguhnya belum dimulai. Tapi daun beringinnya sudah mulai bergerak. (red)
