RADARTASIK.ID – Posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA dikabarkan semakin tertekan.
Setelah sebelumnya diterpa berbagai kontroversi, mulai dari tuduhan tekanan politik terhadap Federasi Sepak Bola Yordania hingga isu dugaan barter dukungan politik dengan Maroko terkait final Piala Dunia 2030, kini muncul analisis bahwa Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, mulai mengambil langkah strategis untuk menggoyang kekuasaan orang nomor satu FIFA tersebut.
Beberapa pekan lalu, Gianni Infantino masih tampil penuh percaya diri. Ia bahkan menyebut Piala Dunia terakhir sebagai “Piala Dunia terbaik sepanjang sejarah”.
Baca Juga:Pippo Inzaghi Kaget Banyak Penggemar Palermo di Australia: Saya Kira Mereka Fans AC MilanYan Diomande Jadi Rekrutan Termahal Real Madrid, Vinicius Jr Semakin Jauh dari Arsenal
Bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Infantino tampak yakin telah menguasai arah masa depan sepak bola dunia.
Namun, situasinya berubah drastis hanya dalam waktu singkat.
Menurut laporan media Italia, salah satu penyebab utama merosotnya dukungan terhadap Infantino adalah rencana FIFA Forward Enterprise (FFE), sebuah proyek yang membuka peluang penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Gagasan tersebut memicu penolakan dari banyak pihak karena dinilai mengarah pada komersialisasi berlebihan terhadap ajang paling bergengsi dalam sepak bola dunia.
Banyak pengamat menilai langkah itu mengingatkan pada kontroversi European Super League yang sempat digagas Andrea Agnelli beberapa tahun lalu dan akhirnya gagal total akibat penolakan besar dari suporter, klub, hingga UEFA.
Alih-alih memperkuat posisinya, proyek FFE justru membuat Infantino menjadi sasaran kritik dari berbagai federasi dan pemangku kepentingan sepak bola.
Menurunnya popularitas Infantino sebenarnya sudah terlihat sejak beberapa waktu terakhir.
Sejumlah kebijakan FIFA di bawah kepemimpinannya terus menuai kritik, mulai dari polemik kasus Balogun, aturan hydration break, hingga ide menghadirkan pertunjukan ala Super Bowl pada jeda final Piala Dunia, yang dianggap menghilangkan tradisi sepak bola.
Belum lagi berbagai kontroversi terbaru yang semakin memperburuk citranya.
Sebelumnya, Presiden Federasi Sepak Bola Yordania, Pangeran Ali bin Al Hussein, menuduh Infantino melakukan tekanan politik dengan mengaitkan bantuan FIFA terhadap dukungan dalam pemilihan Presiden FIFA mendatang.
Pangeran Ali bahkan menyebut situasi tersebut sebagai bentuk pemerasan (blackmail).
Baca Juga:Infantino Usulkan Maroko Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2030, Diduga Minta Dukungan untuk Jabatan Presiden FIFA Andalkan Data Algoritma, AC Milan Incar Bintang Muda Chili untuk Gantikan Leao
Tak lama kemudian, muncul pula laporan dari The Times yang menyebut Infantino diduga menawarkan Maroko kesempatan menjadi tuan rumah final Piala Dunia 2030 di Stadion Hassan II, Casablanca, sebagai imbalan atas dukungan terhadap pencalonannya pada Kongres FIFA 2027.
