RADARTASIK.ID – Kontroversi yang melibatkan Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali memanas.
Setelah sebelumnya mendapat ancaman langkah hukum dari UEFA terkait dugaan rencana penjualan sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta, kini tuduhan yang lebih serius datang dari Pangeran Ali bin Al Hussein dari Yordania.
Pangeran Ali, yang merupakan putra ketiga mendiang Raja Hussein dari Yordania, Presiden Federasi Sepak Bola Yordania (JFA), sekaligus mantan Wakil Presiden FIFA pada 2011, menuduh Infantino melakukan tekanan politik terhadap federasinya.
Baca Juga:Inter dan Juventus Mulai Bahas Pertukaran Davide Frattesi dengan Nico GonzalezIntip Titik Lemah Formasi 3-4-2-1 Amorim di AC Milan: Tak Punya Pemain Sayap yang Jago Menyerang dan Bertahan
Melalui unggahan panjang di media sosial X, Pangeran Ali mengaku bahwa Federasi Sepak Bola Yordania seolah dipaksa memberikan dukungan kepada Infantino jika ingin memperoleh bantuan dari FIFA.
Ia bahkan menyebut situasi tersebut sebagai bentuk “pemerasan” atau “blackmail” yang tidak bisa diterima.
Pernyataan tersebut menambah panjang daftar polemik yang membayangi kepemimpinan Gianni Infantino dalam beberapa waktu terakhir.
Sebelumnya, Infantino juga menjadi sorotan setelah muncul kritik terkait tata kelola FIFA dan polemik hak komersial Piala Dunia yang memicu reaksi keras dari UEFA.
Dalam pernyataannya, Pangeran Ali menjelaskan bahwa Yordania merupakan negara kecil dengan anggaran sepak bola yang terbatas.
Meski berhasil mencatat sejarah dengan tampil untuk pertama kalinya di putaran final Piala Dunia, mereka justru menghadapi berbagai kesulitan selama mengikuti turnamen.
Menurutnya, masalah pertama muncul ketika banyak suporter Yordania gagal memperoleh visa masuk ke Amerika Serikat, meskipun mereka telah membeli tiket pertandingan dengan harga yang sangat mahal.
Baca Juga:UEFA, CONCACAF dan AFC Kompak Ingin Singkirkan Infantino: Dia Harus Lengser Lampard Ingin Pinjam Mudryk dari Chelsea, Disiapkan untuk Laga Pembuka Premier League Lawan Arsenal
“Kami adalah negara kecil dengan anggaran yang minim dan harus menghadapi berbagai hambatan besar. Banyak pendukung kami tidak mendapatkan visa meskipun sudah memiliki tiket pertandingan yang harganya sangat tinggi,” tulis Pangeran Ali.
Keluhan berikutnya menyangkut persoalan pajak.
Pangeran Ali mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat, melalui mekanisme yang dijalankan FIFA, mengenakan beban pajak atas partisipasi Yordania di Piala Dunia.
Menurutnya, dana yang seharusnya menjadi hak para pemain dan staf justru terpotong karena kewajiban pajak tersebut.
Ia membandingkan situasi itu dengan tim-tim yang menjadikan Kanada atau Meksiko sebagai markas selama turnamen, yang disebut tidak mengalami beban serupa.
