Sementara itu, Koordinator Program Inklusi ’Aisyiyah Kabupaten Tasikmalaya, Rosmini, menjelaskan pendampingan lansia di Desa Sirnaputra telah dilakukan sejak 2022 melalui program Sekolah Lansia.
“Pada tahun 2023 kami memulai Sekolah Lansia dengan peserta sebanyak 23 orang. Alhamdulillah sekarang sudah berkembang hingga mencapai tingkat dasar, madya, dan lanjut. Program ini sudah berjalan selama tiga tahun,” katanya.
Rosmini menambahkan, pihaknya juga mendorong lahirnya Peraturan Desa (Perdes) tentang Kelanjutusiaan sebagai landasan pengembangan pelayanan lansia di tingkat desa.
Baca Juga:Ulama dan Ormas Islam Datangi DPRD Kabupaten Tasikmalaya, Ajukan Naskah Akademik Raperda Ketahanan KeluargaDisdikbud Kabupaten Tasikmalaya Sebut Pembangunan Kelas Baru SDN Kubangsari Taraju Belum Masuk Rencana
Implementasi regulasi tersebut kini dilanjutkan dengan pembentukan layanan lansia terintegrasi yang melibatkan pemerintah desa, masyarakat, tokoh masyarakat, dan berbagai unsur lainnya agar kebutuhan layanan lansia dapat terakomodasi secara menyeluruh.
Menurutnya, pelatihan dirancang untuk meningkatkan pemahaman keluarga mengenai proses penuaan sekaligus memperkuat kemampuan dalam memberikan pendampingan dan perawatan agar lansia dapat menjalani hidup secara bermartabat.
Materi yang diberikan mencakup pemahaman proses menua, potensi lansia, serta tujuh dimensi lansia tangguh, yaitu aspek spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial kemasyarakatan, profesional vokasional, dan lingkungan.
Peserta juga dibekali pengetahuan mengenai perawatan fisik lansia, penggunaan alat bantu kesehatan, teknik mobilisasi, modifikasi rumah yang aman, pencegahan luka dekubitus, hingga penguatan peran keluarga dan lintas generasi.
Selain itu, pelatihan membahas pemenuhan gizi seimbang, pengaturan pola makan sesuai kondisi kesehatan seperti hipertensi, diabetes melitus, asam urat, dan penyakit jantung, termasuk contoh menu bergizi bagi lansia yang mengalami malnutrisi.
Aspek kesehatan mental juga menjadi perhatian melalui materi pengenalan masalah psikososial, penanganannya, proses penerimaan diri (acceptance and maintenance therapy), serta manajemen stres.
“Melalui pelatihan ini diharapkan keluarga mampu menjadi pendamping utama yang dapat memenuhi kebutuhan fisik, mental, sosial, dan emosional lansia sehingga mereka tetap produktif, mandiri, serta memiliki kualitas hidup yang lebih baik di usia lanjut,” pungkasnya. (obi)
