BPS Catat Tingkat Pengeluaran Konsumsi Warga Kabupaten Tasikmalaya Menurun Sepanjang 2025

kemiskinan di kabupaten tasikmalaya
gambar ilustrasi:radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Jumlah warga miskin di Kabupaten Tasikmalaya masih tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan presentase 10,15 persen dari total jumlah penduduk atau sekitar 185.990 jiwa. Sementara tingkat kemiskinan di Jawa Barat berada di 6,78 persen–data statistik jabarprov bulan September 2025.

Meski begitu, capaian tersebut lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 10,23 persen atau sekitar 186.750 jiwa.

Di sisi lain, BPS Kabupaten Tasikmalaya mencatat rata-rata pengeluaran konsumsi masyarakat juga ikut turun. Pada 2024, rata-rata pengeluaran per orang per bulan sebesar Rp1.095.641, sedangkan pada 2025 menjadi Rp1.094.042.

Baca Juga:Tarif Pelepasan Status WNI Naik Jadi Rp5 Juta, Menkum: Hanya Berdampak pada Segelintir OrangDari Transportasi Menuju Arena Pengabdian Jawa Barat!

Sekilas, penurunan pengeluaran masyarakat ini seperti mengindikasikan terjadinya penurunan kesejahteraan. Namun menurut Ahli Muda BPS Kabupaten Tasikmalaya, Dudi Suryadi, penurunan rata-rata pengeluaran konsumsi tidak dapat langsung diartikan sebagai penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat.

“Memang ada penurunan dalam tingkat konsumsinya. Di tahun 2024 rata-rata pengeluaran Rp Rp 1.095.641. Sementara rata-rata pengeluaran tahun 2025 ada penurunan Rp 1.094.042. Jadi data ini tidak pasti menunjukkan adanya penurunan kesejahteraan,” terang Dudi.

Menurut Dia, data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS hanya mencatat pengeluaran konsumsi rumah tangga. Sedangkan perubahan pola belanja masyarakat, seperti mengalihkan pengeluaran untuk tabungan atau investasi, tidak tercermin dalam data tersebut.

“Karena di susenas, yang didata adalah pengeluaran konsumsi. Jadi ketika rumah tangga, ada realokasi dari konsumsi dengan menabung atau beli aset tidak akan tercatat di peneluaran ini,” paparnya.

Ia menjelaskan, masyarakat bisa saja mengurangi konsumsi karena mengalihkan dananya untuk membeli aset atau menabung.

“Misalnya pada tahun 2024 rata-rata konsumsinya Rp 2 juta, pada tahun 2025 konsumsinya dialihkan untuk membeli emas batangan/logam mulia, atau membeli tanah atau ditabung, maka konsumsi yang tercatat akan berkurang,” jelas dia.

Dudi menambahkan, banyak faktor yang memengaruhi perubahan rata-rata pengeluaran konsumsi sehingga harus dianalisis bersama indikator ekonomi lainnya.

Baca Juga:Malik Mahpud Memilih Jalannya Sendiri!Rambut Putih Ketua KADIN!

Menurutnya, rata-rata pengeluaran per kapita atau per orang, dihitung dari seluruh penduduk, baik miskin maupun tidak miskin. Dengan demikian, penurunan konsumsi tidak selalu diikuti kenaikan angka kemiskinan.

0 Komentar