TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Nama itu terlalu panjang untuk sekadar dipanggil saat absensi. Al Malik Masahiko Otsuka Mahpud. Empat kata. Empat budaya. Empat harapan.
Kini nama itu masuk ke rumah besar Partai Golkar. Bukan sebagai penonton. Bukan pula sebagai simpatisan. Ia langsung dipercaya menjadi Wakil Bendahara Umum DPD Partai Golkar Jawa Barat.
Mengapa Golkar memilih Malik? Jawabannya mungkin bukan karena politik. Melainkan karena perjalanan hidupnya. Ia lahir jauh dari Tasikmalaya. Bahkan jauh dari Indonesia. Santa Clara, California, Amerika Serikat. Tanggal 14 Juli 1994.
Baca Juga:Rambut Putih Ketua KADIN!Rp3,6 Miliar untuk Mengolah Apa? Jangan Sampai Terjadi Kebakaran di TPA Ciangir!
Tetapi darah Priangan tetap mengalir dalam dirinya. Ayahnya, Arief Rahman Mahpud, adalah salah satu tokoh yang membesarkan perusahaan transportasi Primajasa.
Pamannya adalah H Amir Mahpud, Ketua DPD Gerindra Jawa Barat. Sedangkan kakaknya kini menjadi orang nomor satu di Kota Tasikmalaya. Viman Alfarizi Ramadhan. Satu keluarga. Berbeda jalur politik. Itulah demokrasi. Tidak semua pohon dalam satu kebun harus berbuah dengan warna yang sama.
Malik memilih membangun karier lebih dulu. Ia bukan politikus yang tumbuh dari rapat ke rapat. Ia tumbuh dari garasi. Dari terminal. Dari ruang kontrol operasional. Dari laporan armada. Hari-harinya dihabiskan memastikan bus berjalan tepat waktu.
Mesin bekerja. Operasional efisien. Sebagai Direktur Operasional Lapangan dan Teknik PT Primajasa, ia memahami satu hal. Mengelola ribuan perjalanan setiap hari jauh lebih rumit daripada menyampaikan pidato politik.
Sebab mesin tidak bisa dibohongi. Jadwal tidak bisa dinegosiasikan. Kesalahan kecil bisa berakibat besar. Pengalaman itulah yang membentuk cara berpikirnya. Terukur. Cepat. Praktis.
Di luar pekerjaan, ada dunia yang sama sekali berbeda. Lumpur. Batu. Tanjakan. Kubangan. Malik menyebutnya hobi. Orang lain menyebutnya ekstrem. Adventure offroad racing. Ia bukan sekadar penikmat. Ia pembalap. Aktif mengikuti berbagai kejuaraan nasional.
Kini, ia juga menjadi anggota Komisi Adventure Offroad Ikatan Motor Indonesia (IMI) Provinsi Jawa Barat. Barangkali di sanalah ia belajar bahwa setiap lintasan sulit selalu punya jalan keluar. Asal berani mencari traksi. Politik pun sering seperti itu.
Baca Juga:Mengubah Wajah Kabupaten Tasikmalaya Menjadi Ramah terhadap Pembangunan InfrastrukturTasik: Kota Miskin, TPP Kaya!
Ada lagi yang menarik. Sepak bola. Saat Persikotas berusaha bangkit dari masa-masa sulit, Malik memilih ikut mendorong dari belakang layar.
