Sejak 2024 ia menjadi Dewan Penasehat Persikotas. Tidak mencetak gol. Tidak berdiri di pinggir lapangan memberi instruksi. Tetapi membantu memastikan klub kebanggaan Kota Tasikmalaya itu punya masa depan. Kadang orang yang paling berjasa justru tidak terlihat kamera.
Malik sendiri masih lajang. Teman-temannya mengenalnya sebagai pribadi yang rendah hati. Mudah diajak berbincang. Tidak membatasi pergaulan. Ia juga fasih berbahasa Inggris. Dan mampu berkomunikasi dalam bahasa Jepang.
Bekal yang penting di era ketika politik tidak lagi hanya berbicara kepada warga kampung, tetapi juga kepada dunia. Lalu saya memperhatikan namanya. Al Malik. Dalam bahasa Arab berarti raja. Pemimpin. Penguasa. Salah satu Asmaul Husna. Nama yang memuat harapan akan kewibawaan.
Baca Juga:Rambut Putih Ketua KADIN!Rp3,6 Miliar untuk Mengolah Apa? Jangan Sampai Terjadi Kebakaran di TPA Ciangir!
Lalu Masahiko. Nama Jepang yang bermakna putra yang cemerlang. Anak yang membawa kemakmuran. Yang bersinar. Kemudian Otsuka. Nama keluarga Jepang yang berarti bukit besar. Kokoh. Tinggi. Menjadi tempat berpijak.
Terakhir, Mahpud. Berarti yang terpuji. Yang dihormati. Yang baik namanya. Empat kata. Empat filosofi. Kalau digabung menjadi doa yang panjang. Semoga menjadi pemimpin yang cemerlang, kokoh, dan terpuji. Tentu nama hanyalah doa. Bukan jaminan. Yang menentukan tetap perjalanan hidup.
Golkar tampaknya sedang melakukan regenerasi. Bukan hanya mencari politisi. Tetapi juga mencari profesional. Orang-orang yang terbiasa mengambil keputusan. Terbiasa memimpin organisasi. Terbiasa menghadapi tekanan.
Malik datang membawa modal itu. Modal bisnis. Modal organisasi. Modal olahraga. Modal jejaring. Sisanya tinggal satu. Membuktikan bahwa mengelola partai politik tidak lebih sulit daripada mengendalikan armada bus.
Atau mungkin justru sebaliknya. Karena di dunia transportasi, yang macet hanya jalan. Di dunia politik, yang sering macet adalah kepentingan. Dan itu jauh lebih sulit diurai daripada kemacetan di persimpangan mana pun. (red)
