TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Krisis air bersih masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan di Kota Tasikmalaya. Kampung Cidolog RT 04 RW 11, Kelurahan Tamansari, Kecamatan Tamansari, menjadi salah satu titik yang rutin menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih setiap musim kemarau.
Pantauan di lapangan, Minggu (19/7/2026), warga tampak mengantre di satu-satunya sumber mata air yang masih mengalir. Kondisi air terlihat keruh, namun tetap dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena tidak ada pilihan lain. Bahkan, untuk mencuci pakaian maupun mengambil air, warga harus bergantian menunggu giliran.
Salah seorang warga, Nani (46), mengaku kesulitan air bersih selalu menjadi persoalan yang berulang setiap tahun. Tak jarang warga harus menunggu lama, bahkan ada yang pulang tanpa membawa air karena debit sumber mata air sudah habis. “Kalau musim kemarau begini memang susah. Kadang harus menunggu lama, bahkan ada yang tidak kebagian karena airnya sudah habis,” katanya.
Baca Juga:Kolaborasi MBK Ventura dan Baznas, Serahkan Bantuan di Ciawi Tasikmalaya dan Berikan Edukasi Kepada MasyarakatKerja Sama Urusan Retribusi Parkir Tak Masuk Logika, Potensinya Malah Rugi
Dia berharap ada solusi permanen dari pemerintah agar warga tidak lagi harus mengantre air setiap musim kemarau.
”Kasihan warga, terutama yang sudah lanjut usia. Setiap musim kemarau selalu seperti ini, harus menunggu giliran dan mencari air ke mana-mana,” ucapnya.
Tokoh setempat, Romdin (66), menjelaskan persoalan air bersih di Kampung Cidolog sudah berlangsung sejak awal 1980-an. Menurutnya, tingkat keparahan krisis air semakin terasa dalam tiga dekade terakhir. “Dari tahun 1982 sudah sulit air kalau musim kemarau. Tingkat keparahannya kurang lebih sudah 30 tahunan,” ungkapnya.
Selain berdampak pada kebutuhan rumah tangga, kekeringan juga mulai mengancam sektor pertanian. Sekitar tiga hektare sawah di kawasan tersebut mulai mengering akibat minimnya pasokan air.
Sementara itu, tokoh pemuda setempat, Ustad Suryana (44), mengatakan usulan pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) sebenarnya sudah diajukan sekitar empat tahun lalu. Menurutnya, keberadaan SPAM menjadi solusi agar sekitar 40 kepala keluarga tidak lagi bergantung pada sumber mata air yang debitnya terus menurun saat kemarau.
Bahkan, dia menyatakan siap mewakafkan sebagian tanah miliknya apabila dibutuhkan untuk pembangunan fasilitas tersebut. “Kalau kendalanya lahan, saya siap mewakafkan tanah untuk kepentingan warga. Yang penting masyarakat tidak terus mengalami kesulitan air setiap musim kemarau,” tegasnya.
