TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Bencana longsor terjadi di Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Minggu (19/7/2026) sekitar pukul 16.45 WIB. Peristiwa tersebut sempat direkam warga dan videonya beredar di media sosial.
Dalam video amatir itu terlihat pergerakan tanah yang disertai pepohonan bergeser dengan cepat hingga bertumbangan. Terdengar pula seorang pria melantunkan selawat, sementara seorang ibu berteriak memanggil anaknya yang sedang mencari belut di area persawahan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya Roni AKS mengatakan, sebelum longsor terjadi, lahan persawahan di lokasi tidak dapat digarap selama satu musim tanam atau sekitar empat bulan karena pasokan air irigasi dihentikan untuk proses perbaikan.
Baca Juga:Korsleting Listrik, Satu Rumah Terbakar di Kabupaten Tasikmalaya, Damkar dan Tagana Berjibaku Padamkan ApiTasikmalaya Diskon Besar!
“Karena adanya penghentian air irigasi selama proses perbaikan. Kondisi tersebut diperparah dengan masuknya musim kemarau, sehingga lahan persawahan mengalami kekeringan dan tanah menjadi retak-retak,” terang Roni.
Setelah perbaikan selesai, aliran irigasi kembali mengalir. Namun, kondisi tanah yang telah retak akibat kekeringan membuat air meresap ke dalam retakan tersebut.
“Air irigasi meresap ke dalam retakan-retakan tersebut, kemudian dipicu adanya gempa bumi dan menyebabkan terjadinya tanah longsor,” jelas Roni.
Berdasarkan hasil verifikasi BPBD, longsor terjadi pada tebing sepanjang sekitar 50 meter dengan lebar bagian atas 1 hingga 4 meter, lebar bagian bawah sekitar 10 meter, dan tinggi sekitar 18 meter. Lokasi longsor berada di seberang tebing dengan jarak sekitar 76 meter dari permukiman warga Kampung Adat Naga.
Material longsor menimbun sekitar 1,5 hektare lahan persawahan di bawah tebing serta memutus saluran irigasi yang mengairi sawah di sekitarnya.
“Dampaknya saluran/parit irigasi yang mengairi sawah di pinggirnya terputus akibat terbawa longsor. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut,” ungkap Roni.
BPBD telah berkoordinasi dengan UPT SDA Ciwulan Cilaki dan pemerintah desa setempat serta melakukan peninjauan ke lokasi. Penanganan yang dibutuhkan meliputi pembersihan material longsor, pemasangan pipa paralon berdiameter 8 inci sepanjang 100 meter untuk menggantikan saluran air yang terputus, normalisasi dan perbaikan saluran irigasi, kajian teknis kestabilan tebing, serta pembangunan atau penguatan tebing sesuai hasil kajian.
