Ponpes Daarul Qowaanin Kota Tasikmalaya Fokus Cetak Generasi Berilmu dan Beramal di Tengah Krisis Moral

Milad ke-25 Pondok Pesantren Daarul Qowaanin
Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Qowaanin, KH Asep Zainy Arief. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Memasuki usia ke-25, Pondok Pesantren Daarul Qowaanin di Kampung Cisangkir, Kelurahan Kotabaru, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya, menegaskan komitmennya mencetak generasi yang berkualitas dari sisi ilmu dan amal.

Di tengah tantangan moral yang dinilai semakin kompleks, pesantren memilih tetap mempertahankan metode pembelajaran salaf dengan penguatan karya ilmiah yang ditulis sendiri oleh pimpinan pesantren.

Pimpinan Pondok Pesantren Daarul Qowaanin, KH Asep Zainy Arief, mengatakan visi utama pesantren sejak berdiri hingga memasuki usia seperempat abad tidak berubah, yakni melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara penguasaan ilmu agama dan pengamalannya dalam kehidupan.

Baca Juga:Musyawarah SEV Indonesia Chapter Tasikmalaya Tegaskan Arah Baru Kepengurusan 2026–2029Pembinaan Ohan Hafiz Kota Tasikmalaya Terus Diperkuat, 20 Peserta Tembus Hafalan 30 Juz

“Visi kami mencetak generasi yang berkualitas dari segi ilmu dan amal. Itu yang terus kami pegang,” ujarnya kepada Radar, Sabtu (18/7/2026).

Menurut dia, proses pembelajaran di Daarul Qowaanin tetap menggunakan metode salaf sebagaimana diwariskan para ulama terdahulu.

Namun, untuk sejumlah kitab yang diajarkan, penjelasan atau syarah menggunakan karya yang ditulis sendiri agar materi lebih dikuasai dan mudah dipahami santri.

“Kalau menggunakan karya sendiri tentu lebih kami kuasai bobot isinya. Mustahil kita membuat orang memahami pelajaran kalau kita sendiri belum benar-benar memahaminya,” katanya.

KH Asep menjelaskan, hingga saat ini telah menyusun empat kitab syarah yang menjadi bahan pembelajaran di pesantren.

Masing-masing Shawn al-Haji, syarah untuk al-Muqaddimah al-Ajurrumiyah (Nahwu), Tasyrif al-Maziy, syarah untuk at- Tashrif al-‘Izziy (Sharaf), Kifayah al-Mustabin, syarah untuk Nazham Ar-Risalah ad-Dahlaniyah (Bayan) serta Inkisyat azh-Zhulam, syarah untuk As-Sullam al-Munawraq (Manthiq).

Ia menambahkan, santri yang belajar di Daarul Qowaanin tidak dibatasi usia tertentu. Meski mayoritas merupakan kalangan dewasa, pesantren juga menerima santri usia sekolah dasar hingga berbagai jenjang lainnya.

Baca Juga:Warisan Sejarah Jangan Tergerus Waktu, ASN Kota Tasikmalaya Bersihkan Kawasan Tugu KoperasiUlama Desak Segera Dibuat Perda Larangan LGBT, DPRD Kota Tasikmalaya Siapkan Rekomendasi Perwal

Di sisi lain, KH Asep menilai tantangan terbesar pendidikan Islam saat ini adalah menurunnya moralitas generasi muda.

Kondisi tersebut menjadi alasan pesantren harus menyiapkan kader-kader umat yang memiliki bekal ilmu sekaligus akhlak yang kuat.

“Kalau melihat kondisi sekarang, moralitas memang sangat memprihatinkan. Karena itu generasi yang akan datang harus lebih mapan daripada generasi sekarang, baik dari sisi ilmu maupun amal,” tegasnya.

0 Komentar