RADARTASIK.ID – Kontroversi pencabutan skorsing striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, terus meluas dan kini memicu konflik terbuka antara UEFA dan FIFA.
Setelah Belgia melayangkan protes keras, kini Inggris dan Prancis ikut memanfaatkan preseden tersebut dengan meminta hukuman disiplin terhadap pemain mereka ditinjau ulang.
Kasus Balogun menjadi sorotan dunia setelah FIFA secara mengejutkan menangguhkan hukuman larangan bermain terhadap penyerang Amerika Serikat itu.
Baca Juga:Cristiano Ronaldo: Pemain Hebat yang Ditakdirkan Tak Pernah Memenangkan Piala DuniaAC Milan Belanja Gila-Gilaan: Bidik Van Dijk Usai Habiskan Rp2 Triliun untuk Beli Dua Pemain
Padahal, Balogun sebelumnya menerima kartu merah langsung usai intervensi VAR saat menghadapi Bosnia di babak sebelumnya.
Keputusan tersebut membuat Balogun tetap bisa memperkuat tim asuhan Mauricio Pochettino pada laga babak 16 besar melawan Belgia.
FIFA berdalih langkah itu diambil berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA, yang memberikan kewenangan kepada Komisi Disiplin untuk menangguhkan pelaksanaan hukuman dalam kondisi tertentu.
Namun, penjelasan FIFA justru memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Hingga kini, badan sepak bola dunia itu belum mengungkap secara rinci alasan khusus yang membuat Pasal 27 diterapkan pada kasus Balogun.
Kontroversi semakin memanas setelah muncul laporan The New York Times yang menyebut keputusan tersebut diambil setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan panggilan telepon kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Laporan itu mengutip tiga sumber yang mengetahui percakapan tersebut.
Trump kemudian mengakui memang sempat berbicara dengan Infantino. Namun, ia membantah meminta FIFA membatalkan kartu merah Balogun.
“Itu adalah keputusan yang tidak adil. Saya tidak meminta kartu merahnya dihapus, saya hanya meminta agar insiden tersebut ditinjau kembali,” kata Trump.
Baca Juga:Roberto De Zerbi Izinkan Vicario Dipinjam Juventus: Tottenham Patok Harga Rp400 MiliarTaktik Catenaccio Inggris di 15 Menit Akhir Ingatkan Kejayaan Bek Italia di Masa Lalu
Di sisi lain, Infantino juga mengonfirmasi adanya komunikasi dengan Trump, tetapi menegaskan bahwa seluruh keputusan tetap berada di tangan Komisi Disiplin FIFA yang bekerja secara independen.
Meski demikian, pernyataan tersebut gagal meredam kritik.
Ketua Komisi Disiplin FIFA memang kembali menegaskan bahwa keputusan diambil berdasarkan Pasal 27, tetapi tidak menjelaskan keadaan luar biasa apa yang menjadi dasar pemberian dispensasi kepada Balogun.
Belgia menjadi negara pertama yang bereaksi keras. Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA) langsung mengajukan keberatan resmi terhadap keputusan FIFA. Namun, protes itu ditolak karena dianggap tidak memenuhi syarat.
