FIFA beralasan Belgia tidak memiliki kedudukan hukum untuk menggugat sanksi yang dijatuhkan dalam pertandingan yang tidak melibatkan mereka.
Penolakan tersebut justru memperbesar gelombang kritik.
UEFA disebut berada di garis terdepan dalam menentang keputusan FIFA.
Organisasi sepak bola Eropa itu dikabarkan menggunakan nada yang sangat keras dan kembali memanaskan rivalitas lama dengan FIFA terkait tata kelola sepak bola dunia.
Presiden baru Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Giovanni Malago, juga ikut angkat bicara.
Baca Juga:Cristiano Ronaldo: Pemain Hebat yang Ditakdirkan Tak Pernah Memenangkan Piala DuniaAC Milan Belanja Gila-Gilaan: Bidik Van Dijk Usai Habiskan Rp2 Triliun untuk Beli Dua Pemain
Menurutnya, keputusan terhadap Balogun menciptakan preseden yang sangat berbahaya bagi masa depan penegakan disiplin dalam sepak bola.
Kini efek domino mulai bermunculan.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel, mempertanyakan bagaimana FIFA menentukan sebuah kartu merah layak ditangguhkan atau tidak.
“Kalau satu kartu merah bisa ditangguhkan, siapa yang menentukan kartu merah lainnya benar atau salah?” demikian pertanyaan yang dilontarkan Tuchel.
Akibatnya, Federasi Sepak Bola Inggris kini dikabarkan mempertimbangkan untuk mengajukan permohonan peninjauan terhadap kartu merah yang diterima bek muda Jarell Quansah.
Prancis pun mengambil langkah serupa.
Meski sebagian dianggap sebagai bentuk sindiran terhadap FIFA, Federasi Sepak Bola Prancis secara resmi meminta agar kartu kuning yang diterima Michael Olise juga dibatalkan.
Langkah Inggris dan Prancis menunjukkan bahwa keputusan FIFA dalam kasus Balogun berpotensi membuka pintu bagi klub maupun tim nasional lain untuk meminta perlakuan serupa setiap kali pemain mereka menerima kartu merah atau kartu kuning.
Banyak pengamat menilai situasi ini dapat memicu kekacauan dalam sistem disiplin sepak bola internasional.
Baca Juga:Roberto De Zerbi Izinkan Vicario Dipinjam Juventus: Tottenham Patok Harga Rp400 MiliarTaktik Catenaccio Inggris di 15 Menit Akhir Ingatkan Kejayaan Bek Italia di Masa Lalu
Jika setiap hukuman dapat dinegosiasikan atau ditinjau ulang tanpa parameter yang jelas, maka kepastian hukum dalam pertandingan akan semakin dipertanyakan.
Di tengah polemik tersebut, hubungan dekat antara Donald Trump dan Gianni Infantino kembali menjadi sorotan.
Selama beberapa tahun terakhir, keduanya beberapa kali terlihat memiliki hubungan yang sangat akrab, sehingga memunculkan spekulasi mengenai adanya pengaruh politik terhadap keputusan FIFA.
Kontroversi ini juga muncul di saat Gianni Infantino mulai menghadapi tantangan menjelang pemilihan Presiden FIFA berikutnya pada 2027.
