Taktik Catenaccio Inggris di 15 Menit Akhir Ingatkan Kejayaan Bek Italia di Masa Lalu

Timnas Inggris
Selebrasi pemain Inggris usai menang dramatis 3-2 atas tuan rumah Meksiko.   Foto: Tangkapan layar Instagram@fifaworldcup 
0 Komentar

Cara Inggris bertahan dalam situasi tersebut mengingatkan pencinta sepak bola pada taktik klasik catenaccio yang pernah membawa klub-klub dan Timnas Italia berjaya di era 1980-an hingga awal 2000-an.

Saat itu, Italia dikenal memiliki lini belakang yang hampir mustahil ditembus.

Nama-nama seperti Paolo Maldini, Alessandro Nesta, Fabio Cannavaro, Franco Baresi hingga Giuseppe Bergomi menjadi simbol kecerdasan bertahan, ketenangan membaca permainan, serta kemampuan mengambil keputusan di bawah tekanan.

Hal serupa terlihat dari lini belakang Inggris saat menghadapi Meksiko.

Baca Juga:New York Times: FIFA Cabut Sanksi Kartu Merah Striker AS Usai Ditelepon TrumpLeao Ingin Tinggalkan AC Milan: Tottenham Dekati Jorge Mendes

Mereka tidak panik meski terus ditekan. Setiap pemain bertahan disiplin menjaga posisi, memenangi duel udara, menutup ruang tembak, hingga melakukan sapuan-sapuan penting pada momen krusial.

Salah satu pahlawan kemenangan Inggris adalah John Stones.

Bek senior Manchester City itu tampil luar biasa sepanjang pertandingan. Momen terbaiknya terjadi di menit-menit akhir ketika melakukan sapuan heroik tepat di garis gawang yang menggagalkan peluang emas Meksiko.

Performa tersebut membuat Stones layak mendapatkan nilai 9 dari 10.

Jordan Pickford juga pantas mendapat apresiasi serupa.

Kiper Everton itu melakukan sejumlah penyelamatan penting sejak babak pertama, termasuk menggagalkan dua peluang emas Raul Jimenez yang nyaris mengubah jalannya pertandingan.

Meski Quansah harus meninggalkan lapangan akibat kartu merah dan hanya layak mendapat nilai 5, perubahan yang dilakukan Tuchel terbukti efektif.

Masuknya Dan Burn menghadirkan dominasi di udara. Bek bertubuh jangkung itu memenangi banyak duel bola atas dan berhasil meredam gempuran Meksiko.

Sementara Djed Spence memberikan energi baru di sektor kanan pertahanan dengan beberapa intersep dan tekel penting yang membantu Inggris mempertahankan keunggulan.

Kemenangan Inggris terasa semakin istimewa jika melihat statistik pertandingan.

Menurut catatan resmi, pasukan Thomas Tuchel hanya menguasai 33,2 persen penguasaan bola sepanjang laga.

Baca Juga:AC Milan Kebut Transfer Mario Gila, Siapkan Tawaran Rp600 Miliar untuk Luluhkan LazioFIFA Cabut Sanksi Kartu Merah Striker AS, Pelatih Belgia: Piala Dunia Seperti April Mop

Itu merupakan angka penguasaan bola terendah yang pernah dicatat tim pemenang dalam pertandingan Piala Dunia sejak data tersebut mulai terdokumentasi pada edisi 1966.

Fakta tersebut membuktikan bahwa dominasi penguasaan bola tidak selalu menjadi jaminan kemenangan.

Inggris justru menang melalui efisiensi serangan, disiplin bertahan, dan mentalitas yang luar biasa saat menghadapi tekanan.

0 Komentar