RADARTASIK.ID – Kontroversi keputusan FIFA yang mencabut skorsing striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, memasuki babak baru.
Setelah sebelumnya menuai protes keras dari Belgia, kini The New York Times melaporkan bahwa keputusan tersebut diduga diambil setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump melakukan panggilan telepon kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Laporan tersebut mengutip tiga sumber yang disebut mengetahui langsung isi percakapan tersebut.
Baca Juga:FIFA Cabut Sanksi Kartu Merah Striker AS, Pelatih Belgia: Piala Dunia Seperti April MopNorwegia Singkirkan Brasil 2-1: Haaland Tampil Seperti Monster, Ancelotti Gagal Total
Menurut mereka, panggilan Trump kepada Infantino terjadi sebelum FIFA memutuskan menangguhkan hukuman larangan bermain Balogun.
Sebelumnya, Balogun menerima kartu merah langsung setelah wasit meninjau tayangan VAR dalam pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Bosnia.
Sesuai regulasi, kartu merah tersebut seharusnya membuat penyerang milik AS Monaco itu menjalani skorsing satu pertandingan dan absen pada laga babak 16 besar menghadapi Belgia.
Namun secara mengejutkan, Komisi Disiplin FIFA memutuskan menangguhkan hukuman tersebut dengan menggunakan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA.
Keputusan itu membuat Balogun tetap dapat dimainkan oleh pelatih Mauricio Pochettino saat menghadapi Belgia.
Kini, The New York Times mengungkap dugaan bahwa keputusan tersebut tidak lepas dari campur tangan politik.
Berdasarkan laporan surat kabar asal Amerika Serikat itu, Trump disebut menghubungi Infantino sebelum keputusan diumumkan.
Baca Juga:Media Italia: Carnevali Yakinkan Juventus Beli Tarik Muharemovic Rp720 MiliarIntip Gaji Liberali di Como: Penghasilan Rp20 Miliar per Musim, AC Milan Kebagian Rp60 Miliar
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti yang dipublikasikan kepada publik mengenai isi percakapan tersebut.
FIFA juga belum memberikan tanggapan resmi terhadap tudingan yang dimuat dalam laporan tersebut.
Masih menurut The New York Times, hubungan dekat antara Gianni Infantino dan Donald Trump bukanlah hal baru.
Selama beberapa tahun terakhir, Presiden FIFA dinilai berupaya membangun hubungan yang semakin erat dengan Trump.
Surat kabar tersebut juga menyoroti langkah FIFA tahun lalu yang memberikan FIFA Peace Award kepada Trump.
Penghargaan itu diberikan ketika Trump sedang menjalankan kampanye untuk memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian, meski pada akhirnya upaya tersebut tidak membuahkan hasil.
Laporan itu memunculkan spekulasi baru mengenai independensi FIFA dalam mengambil keputusan, terutama karena pencabutan skorsing Balogun sebelumnya sudah memancing reaksi keras dari Federasi Sepak Bola Belgia (RBFA).
