Ratusan KK di Bojonggambir Tasikmalaya Krisis Air Bersih, Warga Antre di Sumur Masjid

krisis air bersih di bojonggambir tasikmalaya
Warga Desa Kertanegla mengambil air bersih di Masjid Jami Al-Ihsan. (IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kekeringan melanda Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya. Selama hampir dua bulan terakhir, ratusan warga di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat harus mengantre setiap hari untuk mengambil air bersih dari sumur Masjid Jami Al-Ihsan.

Sumur masjid tersebut menjadi satu-satunya sumber air bersih yang masih dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari memasak, mandi, mencuci pakaian, dan keperluan lainnya.

Ketua DKM Masjid Jami Al-Ihsan, Uun Suhendar, mengatakan pihaknya telah mengizinkan warga mengambil air dari sumur masjid dengan pengaturan waktu tertentu agar tidak mengganggu pelaksanaan ibadah.

Baca Juga:MAN 1 Tasikmalaya Jadi Tuan Rumah Pusdiklatsar Paskibra Tingkat Kabupaten Tahun 2026Enam Bulan yang Berkesan!

“Dengan catatan mengambil airnya setiap 10 menit sebelum adzan salat lima ditunaikan. Agar masyarakat yang mau menunaikan salat bisa melaksanakan wudhu terlebih dahulu,” terang Uun, Senin (29/6/2026).

Kepala Desa Kertanegla, Bunyamin, mengatakan krisis air bersih akibat musim kemarau berdampak terhadap sekitar 600 kepala keluarga di wilayahnya.

“Masyarakat kesulitan air bersih, sehingga terpaksa harus mengambil air bersih dari sumber air yang ada di Masjid Jami Al-Ihsan. Banyak warga yang rela antri jauh dari rumah,” terang Bunyamin.

Menurutnya, kekeringan bukan kali pertama terjadi di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat. Kedua wilayah tersebut hampir setiap musim kemarau selalu mengalami krisis air bersih.

“Menindaklanjuti dampak kekeringan dan kesulitan air bersih ini, pemerintah desa sudah membuat laporan ke Pemkab Tasikmalaya melalui BPBD,” katanya.

Pemerintah desa berharap BPBD segera menyalurkan bantuan air bersih. Namun hingga akhir Juni, bantuan tangki air bersih belum juga diterima, sementara musim kemarau masih berlangsung dan debit sumber air terus menyusut.

“Kami belum menunjukkan tanda-tanda sumber air akan kembali mengalir. Kita butuh bantuannya yang permanen misalnya dibangunkan sumur bor air agar tetap terjaga,” tambah dia.

Baca Juga:Solidaritas untuk Supriadi, Perempuan Pejuang Agraria Titipkan Sepasang Kambing di Polres TasikmalayaKetua BEM FH UBK Akui Terima Uang Sebelum Unjuk Rasa di Depan Istana, Civitas Kampus Tuntut Sanksi Tegas

Salah seorang warga Dusun Cipari, Dedeh Rohayati, menuturkan sumur milik warga mulai mengering sejak akhir April. Menurutnya, sebelum musim kemarau sumur sedalam sekitar tiga meter masih mengeluarkan air, tetapi kini meski digali hingga kedalaman 10 meter, air tetap tidak ditemukan.

0 Komentar