Ia juga akan menerima gaji sekitar 7 juta euro per musim, termasuk bonus, atau setara Rp140 miliar setiap tahun.
The Athletic juga mengungkapkan bahwa Ramos telah menjalani tahap awal pemeriksaan medis di Florida, Amerika Serikat.
Saat ini ia berada di Negeri Paman Sam bersama tim nasional Portugal sebagai persiapan menghadapi Kolombia dalam lanjutan Piala Dunia 2026 di Miami.
Baca Juga:Atalanta dan Fabregas Beri Tamparan Keras ke Inter MilanDibu Martinez Rela Potong Gaji Demi Juventus, Aston Villa Minta Uang Kompensasi Rp200 Miliar Plus Bonus
Langkah tersebut dilakukan agar proses transfer bisa dipercepat dan Ramos dapat segera bergabung dengan skuad Ruben Amorim setelah seluruh agenda internasionalnya selesai.
Bagi AC Milan, transfer ini menjadi simbol dimulainya proyek baru di bawah kepemimpinan Cardinale.
Setelah musim lalu gagal memenuhi target, manajemen kini berani menggelontorkan dana besar demi menghadirkan penyerang yang diyakini mampu mengembalikan Rossoneri ke papan atas Serie A dan bersaing di kompetisi Eropa.
Daftar Pembelian Termahal dalam Sejarah AC Milan
Jika transfer Gonçalo Ramos resmi rampung, berikut daftar lima pembelian termahal sepanjang sejarah Rossoneri:
1. Gonçalo Ramos – 70 juta euro (sekitar Rp1,4 triliun) dari PSG pada 2026.
Rafael Leao – 49,5 juta euro (sekitar Rp990 miliar) dari Lille pada 2019.
Leonardo Bonucci – 42 juta euro (sekitar Rp840 miliar) dari Juventus pada 2017.
Baca Juga:Cardinale Sindir Allegri: AC Milan Bermain untuk Menang, Bukan Menghindari KekalahanBielsa Ngamuk Pemain Uruguay Tolak Taktik Duel Satu Lawan Satu Saat Hadapi Spanyol
Rui Costa – 41,3 juta euro (sekitar Rp826 miliar) dari Fiorentina pada 2001.
Lucas Paquetá – 38,4 juta euro (sekitar Rp768 miliar) dari Flamengo pada 2019.
Apabila seluruh proses administrasi berjalan lancar, Gonçalo Ramos akan menjadi wajah baru lini depan AC Milan sekaligus rekrutan paling mahal yang pernah dilakukan klub dalam sejarahnya.
Besarnya investasi tersebut menunjukkan tingginya harapan manajemen agar striker Portugal itu mampu menjadi mesin gol utama Rossoneri pada era kepelatihan Ruben Amorim.
