Ia mencontohkan, rumah sakit yang memiliki kompetensi unggulan pada layanan bedah saraf, kanker, penyakit dalam maupun layanan spesialis lainnya berpeluang menerima lebih banyak pasien sepanjang seluruh standar yang dipersyaratkan terpenuhi.
Karena itu, menurut Titie, seluruh unsur rumah sakit mulai dari tenaga medis, tenaga kesehatan, manajemen hingga penunjang pelayanan harus bergerak lebih cepat mengejar standar kompetensi tersebut.
“Yang harus menjadi branding rumah sakit adalah kualitas pelayanan. Itu yang pertama diingat masyarakat ketika mendengar rumah sakit. Pelayanan harus menjadi wajah utama RSUD,” tegasnya.
Baca Juga:Forum Leuwikeris Buka Fakta Eks HGU Wiriacakra di Cineam Tasikmalaya, Begini KatanyaACC Tingkatkan Literasi Pembiayaan Masyarakat Tasikmalaya, Ajak Hindari Kredit Bermasalah
Sebelumnya, dalam Rapat Paripurna DPRD Kota Tasikmalaya, Anggota Fraksi Partai Golkar Nurul Awalin turut menyoroti menurunnya okupansi RSUD dr Soekardjo.
Berdasarkan pengalaman saat menjalani perawatan, ia menilai pelayanan tenaga kesehatan sudah baik, namun fasilitas dan tingkat keterisian ruang perawatan masih perlu mendapat perhatian.
Nurul meminta pemerintah daerah melakukan pembenahan agar RSUD mampu kembali meningkatkan jumlah pasien sekaligus memperkuat kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Menurutnya, kondisi fiskal daerah yang semakin sempit menuntut seluruh perangkat daerah, termasuk rumah sakit daerah, bekerja lebih efektif dan inovatif dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. (rezza rizaldi)
