Wali Kota Tasikmalaya Harus Pilih 'Petarung Lapangan' untuk Isi 3 Kursi Kosong Jabatan Kepala Dinas

manajemen talenta ASN Kota Tasikmalaya
Ketua Generasi Muda NU (GMNU) Kota Tasikmalaya yang juga Sekretaris Umum PC IKA PMII Kota Tasikmalaya, Myftah Farid. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Proses pengisian tiga jabatan kepala dinas yang masih kosong di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya kembali menjadi sorotan.

Ketua Generasi Muda NU (GMNU) Kota Tasikmalaya yang juga Sekretaris Umum PC IKA PMII Kota Tasikmalaya, Myftah Farid, mempertanyakan sejauh mana sistem manajemen talenta benar-benar dijadikan dasar dalam menentukan pejabat, bukan sekadar memenuhi formalitas administrasi.

Menurut Myftah, momentum pengisian jabatan tersebut menjadi ujian bagi komitmen Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan dalam menjalankan reformasi birokrasi secara nyata.

Baca Juga:Tiga Kursi Kadis Masih Kosong, Mutasi Pejabat Eselon II di Kota Tasikmalaya DimatangkanDPRD Kota Tasikmalaya Pertanyakan Kerja Sama Parkir yang Dikelola Swasta, Jangan Sampai PAD Merugi

“Publik patut bertanya, apakah manajemen talenta benar-benar menjadi instrumen untuk menjaring aparatur terbaik atau hanya dijadikan tameng formalitas dan dalih administratif,” ujarnya, Senin (15/6/2026).

Ia menilai evaluasi terhadap sistem pengisian jabatan sebelumnya perlu dilakukan secara menyeluruh.

Sebab, jika mekanisme yang diklaim berbasis manajemen talenta masih menghasilkan pejabat yang lamban, gagap menghadapi persoalan, dan minim inovasi, maka ada persoalan pada sistem penilaiannya.

Menurutnya, talenta aparatur sipil negara tidak cukup diukur dari hasil asesmen maupun dokumen administrasi, melainkan dari rekam jejak saat menghadapi persoalan nyata di tengah masyarakat.

“Manajemen talenta yang sejati tidak diuji di balik meja kantor ber-AC, tetapi di tengah riuhnya persoalan masyarakat,” tegasnya.

Myftah mencontohkan jabatan Kepala Dinas Sosial maupun Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) yang saat ini masih kosong.

Menurut dia, dua organisasi perangkat daerah tersebut bersentuhan langsung dengan persoalan kemiskinan, ketimpangan ekonomi, hingga kerentanan sosial yang dihadapi masyarakat Kota Tasikmalaya.

Baca Juga:Street Art Tasikmalaya Hidupkan HZ Musthofa Jadi Ruang SeniKota Tasikmalaya Andalkan MTQH Bentuk Generasi Berakhlak

Karena itu, lanjut dia, dinas strategis membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan mengeksekusi solusi, bukan sekadar menguasai teori atau regulasi saat mengikuti proses seleksi.

“Tasikmalaya membutuhkan petarung lapangan. Talenta ASN harus diukur dari track record, apakah mampu menghadirkan solusi saat krisis atau hanya piawai menyusun laporan yang menyenangkan atasan,” terangnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kondisi ekonomi saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan, mulai dari dampak penguatan dolar Amerika Serikat, kenaikan harga BBM hingga kebijakan efisiensi anggaran.

0 Komentar