Bahkan, para lansia mampu menunjukkan semangat, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya bangsa yang patut menjadi teladan.
Di sisi lain, Asep turut menyinggung hasil Rakernas dan Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Regional Jawa-Bali yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri.
Kota Tasikmalaya belum masuk dalam daftar daerah penerima penghargaan pada ajang tersebut.
Baca Juga:KPK Awasi SPMB, DPRD Kota Tasikmalaya Ingatkan Celah Permainan Jangan Pangkas Hak SiswaKuasa Hukum Terlapor Soroti Dugaan Pencurian ART, Pertanyakan Permintaan Damai hingga Rp200 Juta
Meski demikian, kondisi itu diminta tidak disikapi dengan pesimisme. Sebaliknya, hal tersebut harus menjadi bahan evaluasi agar seluruh perangkat daerah semakin terpacu meningkatkan kinerja.
“Belum meraih penghargaan bukan alasan untuk berkecil hati. Justru ini menjadi pengingat bahwa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan,” tegasnya.
Asep mengajak seluruh perangkat daerah menerapkan prinsip Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM) terhadap berbagai inovasi daerah lain yang telah terbukti berhasil.
Menurutnya, di tengah keterbatasan fiskal, kreativitas dan kemampuan beradaptasi menjadi modal penting untuk mempercepat pembangunan dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.
Pesan itu sekaligus menjadi satir positif bagi birokrasi agar tidak terlena dengan rutinitas. Sebab, penghargaan memang membanggakan, tetapi perbaikan berkelanjutan jauh lebih menentukan masa depan Kota Tasikmalaya.
“Jangan merasa cukup dengan apa yang sudah dilakukan hari ini. Terus belajar, berkolaborasi, dan menghadirkan inovasi untuk masyarakat,” pungkasnya. (rezza rizaldi)
