TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Upaya menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih konkret, kontekstual, dan menyenangkan terus dilakukan melalui pemanfaatan kearifan lokal.
Salah satu langkah tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Penguatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar melalui Pemanfaatan Permainan Tradisional Simar yang berlangsung pada 8 Mei 2026 di Kompleks SDN Gunungpereng, Kota Tasikmalaya.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diikuti oleh 30 guru sekolah dasar dari SDN 1 Gunungpereng, SDN 2 Gunungpereng, dan SDN 5 Gunungpereng.
Baca Juga:Taspen Salurkan Gaji Ketiga Belas Pensiunan ASN Mulai 2 Juni 2026, Tanpa Prosedur Ribet7 Rekomendasi Tempat Belajar Ngaji Online Terbaik untuk Dewasa
Selain itu, sebanyak 12 mahasiswa Program Studi S2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UPI Kampus Tasikmalaya turut ambil bagian dalam pelatihan tersebut.
Pelatihan menghadirkan Prof Dr Karlimah MPd sebagai pemateri utama, didampingi oleh tim yang terdiri atas Dr Ika Fitri Apriani MPd, Dindin Abdul Muiz Lidinillah SSi SE MPd dan Muhammad Rijal Wahid Muharram MPd.
Kegiatan ini didukung melalui Hibah UPI Batch 2 Skema PKM Bidang Ilmu dengan nomor kontrak No 336/UN40.F7/AM.02.01/2026.
Kepala SDN 1 Gunungpereng, Dr Irvan Kristian MPd menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan pelatihan tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini memberikan pengalaman baru bagi para guru dalam mengembangkan pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, dan dekat dengan kehidupan peserta didik.
Ia menilai pemanfaatan permainan tradisional Simar tidak hanya membantu siswa memahami konsep matematika, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkenalkan kembali budaya lokal kepada generasi muda.
Dalam sesi pemaparan materi, Prof Karlimah menjelaskan bahwa pembelajaran matematika di sekolah dasar akan lebih efektif jika dikaitkan dengan pengalaman nyata yang dekat dengan keseharian siswa.
Baca Juga:Kompak! Puluhan Rider Honda ADV Taklukkan Jalur Pegunungan Menuju Curug CitamburBukan Sekadar Touring, Vario Night Ride Tasikmalaya Satukan Komunitas Honda dalam Satu Brotherhood
Ia menuturkan bahwa konsep operasi hitung campuran akan lebih mudah dipahami ketika peserta didik terlibat langsung dalam aktivitas bermain yang mengandung unsur berhitung dibandingkan hanya menerima penjelasan yang bersifat abstrak.
Menurutnya, permainan Simar memungkinkan siswa belajar sambil bermain sehingga proses pembelajaran menjadi lebih aktif, menyenangkan, dan tetap berakar pada budaya lokal.
Simar sendiri merupakan permainan tradisional masyarakat Sunda yang menggunakan berbagai jenis biji-bijian sebagai media bermain.
Dalam penerapannya sebagai media pembelajaran, setiap jenis biji diberikan nilai poin yang berbeda.
