Biji sirsak bernilai 1 poin, biji asam 5 poin, biji sawo 10 poin, biji peundeuy 50 poin, dan biji tanjung 100 poin.
Permainan dilakukan dengan cara memasukkan biji ke dalam lubang target menggunakan jentikan jari.
Biji yang berhasil masuk kemudian dihitung sebagai perolehan poin.
Dari proses tersebut, guru dapat mengembangkan berbagai materi matematika, mulai dari operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, hingga pembagian secara lebih konkret dan mudah dipahami siswa.
Baca Juga:Taspen Salurkan Gaji Ketiga Belas Pensiunan ASN Mulai 2 Juni 2026, Tanpa Prosedur Ribet7 Rekomendasi Tempat Belajar Ngaji Online Terbaik untuk Dewasa
Tidak hanya mendukung pembelajaran matematika, Simar juga memiliki potensi untuk diintegrasikan dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).
Melalui permainan ini, siswa dapat mengenal berbagai jenis biji, tumbuhan asalnya, serta lingkungan tempat tumbuhnya.
Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya mengasah kemampuan berhitung, tetapi juga memperluas wawasan peserta didik mengenai alam dan lingkungan sekitar.
Lebih jauh, permainan tradisional ini dinilai memiliki nilai strategis dalam penguatan karakter siswa.
Aturan dan mekanisme permainan dapat menjadi sarana menanamkan nilai-nilai Pancasila, seperti kejujuran, sportivitas, kerja sama, disiplin, tanggung jawab, serta sikap saling menghargai antar peserta didik.
Selain pelatihan, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan sesi diseminasi hasil penelitian mahasiswa S2 PGSD.
Sesi ini menjadi wadah berbagi pengetahuan antara akademisi, mahasiswa, dan guru terkait pengembangan pembelajaran di sekolah dasar, khususnya yang berkaitan dengan inovasi media pembelajaran, strategi pembelajaran, serta pemanfaatan kearifan lokal dalam dunia pendidikan.
Baca Juga:Kompak! Puluhan Rider Honda ADV Taklukkan Jalur Pegunungan Menuju Curug CitamburBukan Sekadar Touring, Vario Night Ride Tasikmalaya Satukan Komunitas Honda dalam Satu Brotherhood
Melalui pelatihan dan diseminasi tersebut, para guru diharapkan mampu mengembangkan pembelajaran matematika yang lebih inovatif, bermakna, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik.
Pemanfaatan permainan tradisional Simar juga menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya lokal sekaligus upaya meningkatkan kompetensi guru dalam merancang pembelajaran berbasis kearifan lokal.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa budaya lokal dapat menjadi sumber belajar yang kaya dan adaptif.
Dengan pengemasan yang tepat, permainan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga dapat menjadi media edukatif yang efektif dalam mendukung pencapaian kompetensi akademik serta pembentukan karakter peserta didik di sekolah dasar, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDG 4 yang menekankan pentingnya pendidikan berkualitas dan inklusif. (rls)
