“Ini adalah bukti lain dari harta besar yang dimiliki Milan saat masih memiliki Maldini sebagai direktur: kepentingan tim selalu di atas segalanya, bahkan jika harus mengorbankan kepentingan ekonominya sendiri,” kata Donati.
Ucapan itu langsung mendapat respons luas dari pendukung Rossoneri yang belakangan semakin frustrasi terhadap arah klub di bawah kepemimpinan Gerry Cardinale dan RedBird Capital.
Beberapa pekan terakhir, kritik terhadap manajemen Milan memang terus meningkat.
Setelah kegagalan lolos ke Liga Champions dan berbagai perubahan internal yang dianggap kacau, tifosi mulai kehilangan kepercayaan terhadap proyek yang sedang dibangun.
Baca Juga:Ludi: Como Hanya Akan Rekrut Pemain Italia yang Cocok dengan Filosofi FabregasLeao Kirim Sinyal Tinggalkan AC Milan, Florentino Perez Tawari Modric Kembali ke Real Madrid
Situasi semakin panas setelah kelompok ultras Curva Sud menyerukan aksi boikot total terhadap klub.
Mereka dikabarkan siap tidak membeli tiket musiman, menghentikan langganan tayangan berbayar, hingga mengosongkan stadion sebagai bentuk protes kepada manajemen.
Jurnalis senior Italia, Luca Serafini, bahkan menyebut Milan kini telah berubah menjadi klub yang dingin dan terlalu fokus pada aspek bisnis.
“Tidak terlihat strategi, ambisi, atau keinginan untuk menang,” tulis Serafini dalam kritik kerasnya terhadap manajemen RedBird.
Di tengah kekacauan tersebut, nama Maldini justru semakin sering disebut sebagai simbol identitas Milan yang hilang.
Banyak pendukung merasa keputusan memecatnya menjadi titik awal renggangnya hubungan antara klub dan tifosi.
Selama menjabat sebagai direktur, Maldini memang berperan penting dalam membangun kembali Milan hingga mampu meraih Scudetto.
Baca Juga:Fabio Ravezzani: AC Milan Jatuh karena Cardinale Tak Mau Keluarkan UangMarotta Bantah Tinggalkan Juventus karena Ronaldo: Itu Hanya Legenda Urban
Ia juga dikenal sebagai figur yang sangat berhati-hati dalam menjaga identitas klub, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Kini, ketika Milan sedang dilanda ketidakpastian, kisah penolakan saham dari Cardinale dianggap semakin menunjukkan bagaimana Maldini memandang klub bukan sekadar bisnis, melainkan bagian dari hidup dan harga dirinya.
Bagi sebagian besar Milanisti, cerita itu menjadi pengingat bahwa sosok seperti Paolo Maldini mungkin jauh lebih berharga daripada yang disadari manajemen saat ini.
