Mereka adalah orang-orang yang jarang terlihat kamera, tetapi paling sibuk ketika jamaah mulai kelelahan, tersesat, sakit, atau sekadar kebingungan membaca arah di kota yang nyaris tak pernah tidur itu. Terutama bagi jamaah lanjut usia dan risiko tinggi.
Di musim haji, petugas bukan hanya bekerja secara administratif. Mereka menjadi anak, menjadi saudara, bahkan menjadi penopang emosi jamaah yang kadang tiba-tiba rindu rumah.
Ketua Kloter KJT 04, Epa Badriah, tak mampu menyembunyikan rasa harunya atas kunjungan tersebut. “Atas nama seluruh jamaah dan PPIH Kloter KJT 04, kami menghaturkan rasa syukur yang mendalam dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Wali Kota Tasikmalaya atas perkenan beliau meluangkan waktu di tengah kesibukan untuk mengunjungi kami di Hotel Snood Mawten, Misfalah. Kehadiran beliau bukan sekadar kunjungan formal, melainkan wujud nyata perhatian dan kasih sayang pemimpin kepada warganya,” ujarnya.
Baca Juga:Surprise Amir Mahpud!Diky Candra Lepas Kontrol!
Kalimat itu disambut anggukan jamaah lain. Sebab di Tanah Suci, perhatian memang menjadi sesuatu yang mahal. Apalagi bagi mereka yang sedang menempuh perjalanan spiritual paling panjang dalam hidupnya.
Di ujung pertemuan, beberapa jamaah berebut mengajak foto bersama. Sebagian lagi hanya melambaikan tangan ketika Viman meninggalkan hotel.
Namun yang tertinggal bukan sekadar dokumentasi. Melainkan rasa tenang. Bahwa jauh di Makkah, warga Kota Tasikmalaya tidak merasa sendiri. (rls)
