“Mungkin sedikit ada kesan intervensi untuk tidak demonstrasi,” ujarnya.
Meski begitu, Cahya tetap menilai forum tersebut penting karena membuka komunikasi antara mahasiswa dengan aparat kepolisian.
Dia menyebut mahasiswa Tasikmalaya perlu terus berakselerasi dan terlibat dalam pembangunan daerah.
Baca Juga:Sampah Terus Menggunung, Tasikmalaya Bisa Jadi Kota Terkotor se-ASEAN287 Rekomendasi DPRD untuk Pemkot Tasikmalaya, Evaluasi LKPJ Jangan Sekadar Formalitas
Kapolres Tasikmalaya Kota AKBP Andi Purwanto menegaskan kegiatan tersebut akan dijadikan agenda rutin sebagai bentuk silaturahmi dan penguatan wawasan mahasiswa.
Dia menyebut mahasiswa merupakan generasi penerus yang kelak akan mengisi pemerintahan dan membawa arah bangsa ke depan.
Karena itu, mahasiswa diminta menjadi agen perubahan yang kritis namun tetap santun.
“Jadilah generasi yang kritis namun tetap santun aktif dalam menyampaikan aspirasi,” katanya.
Menurut Andi, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kontrol sosial sekaligus mitra menjaga stabilitas keamanan.
Dia menegaskan Polri tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan elemen masyarakat, termasuk kalangan akademisi.
Sementara itu, Plh Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra menegaskan mahasiswa bukan ancaman, melainkan aset daerah yang menentukan masa depan Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:Prof Aripin Resmi Jadi Calon Rektor Baru Unsil, Terpilih Secara MufakatKonvoi Persib di Tasikmalaya Berujung Pembinaan, Belasan Remaja Diamankan Polisi
“Mahasiswa itu aset wilayah yang akan membawa maju mundurnya Kota Tasikmalaya,” tuturnya.
Dia juga menegaskan aksi demonstrasi merupakan hak yang dijamin undang-undang dan tidak boleh dilarang.
Menurutnya, pemerintah juga membutuhkan kritik dan pengingat dari masyarakat maupun mahasiswa.
“Pemerintah tidak punya hak melarang penyampaian aspirasi,” katanya.
Namun Diky mengingatkan agar penyampaian aspirasi dilakukan dengan cara yang baik.
Sebab, citra daerah tetap penting untuk menjaga iklim investasi dan kepercayaan publik.
Di tengah derasnya dinamika sosial, mahasiswa diminta tetap kritis tanpa menjadikan jalanan sebagai arena gaduh tanpa arah. (rezza rizaldi)
