TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Persoalan sampah yang kembali menumpuk di sejumlah ruas jalan Kota Tasikmalaya memantik kritik tajam dari Pemerhati Masalah Sosial Kota Tasikmalaya, Ade Ruhimat.
Ia menilai pemerintah daerah terlalu lama berkutat pada pola lama, sementara tumpukan sampah sudah berubah dari sekadar gangguan visual menjadi ancaman kesehatan masyarakat.
Ade Ruhimat atau yang akrab disapa Abah Aru menyebut, kondisi sampah yang menggunung dalam dua pekan terakhir menjadi ironi bagi Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:287 Rekomendasi DPRD untuk Pemkot Tasikmalaya, Evaluasi LKPJ Jangan Sekadar FormalitasProf Aripin Resmi Jadi Calon Rektor Baru Unsil, Terpilih Secara Mufakat
Apalagi, daerah tetangga seperti Kabupaten Ciamis justru berhasil meraih predikat daerah terbersih tingkat ASEAN.
“Kalau sampah ini terus dibiarkan menumpuk, bukan tidak mungkin Tasik malah dikenal sebagai kota terkotor dan terjorok se-ASEAN,” sindirnya, Senin malam (11/5/2026).
Menurut dia, persoalan utama yang memicu penumpukan sampah diduga akibat terganggunya pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) serta minimnya armada truk pengangkut dari TPS.
Ia menilai kondisi tersebut tidak boleh terus dianggap persoalan rutin tahunan tanpa solusi konkret. Sebab, dampaknya bisa meluas terhadap kesehatan masyarakat hingga citra kota.
Ade mendorong Pemerintah Kota Tasikmalaya belajar dari daerah lain yang sukses mengelola sampah modern.
Ia menyayangkan minimnya upaya studi banding maupun diskusi serius dengan daerah yang sudah berhasil menuntaskan persoalan sampah.
“Banyak pejabat dari luar daerah datang ke Ciamis untuk belajar. Masa Tasik yang tetanggaan malah enggan berdiskusi soal keberhasilan pengelolaan sampah,” katanya.
Baca Juga:Konvoi Persib di Tasikmalaya Berujung Pembinaan, Belasan Remaja Diamankan PolisiPenutup Bambu Rapuh Jadi Petaka! Lansia jatuh ke Sumur di Kawalu Tasikmalaya
Tak hanya mengkritik, Ade juga menawarkan konsep pengolahan sampah berbasis teknologi modern.
Ia mengaku pernah bersama seorang peneliti senior Kementerian ESDM menawarkan sistem pengolahan sampah menjadi bioetanol hingga Dimetil Ether (DME) sebagai substitusi elpiji.
Selain itu, ada pula konsep pengolahan menggunakan teknologi RDF (Refuse Derived Fuel) yang menghasilkan bahan bakar alternatif untuk PLTU maupun industri semen.
“Sayangnya gagasan itu dulu nyaris tak mendapat respons serius,” ujarnya.
Ia menilai pengelolaan sampah sudah saatnya dilakukan secara profesional melalui pembentukan BUMD khusus atau melibatkan pihak ketiga agar lebih fokus dan memiliki orientasi bisnis.
