RADARTASIK.ID – Kekalahan dramatis AC Milan dari Atalanta di San Siro memicu gelombang kritik tajam dari berbagai pihak.
Salah satu komentar paling keras datang dari jurnalis senior Italia, Sandro Sabatini, yang menilai Rossoneri kini berada di ambang kehancuran.
Dalam editorialnya di Calciomercato, Sabatini menyebut Milan sudah kehilangan arah dan nyaris mustahil bangkit dalam perburuan tiket Liga Champions musim depan.
Baca Juga:Pertama dalam Sejarah, Barcelona Raih Gelar Liga Spanyol dengan Mengalahkan Real MadridMengapa AC Milan yang Lolos ke Liga Champions Jika Punya Poin yang Sama dengan AS Roma dan Como
“Di tepi jurang. Bahkan mungkin sudah jatuh ke dalamnya. Milan sudah tamat,” tulis Sabatini.
Ia menggambarkan suasana San Siro yang dipenuhi siulan dan protes suporter sebagai simbol kehancuran tim yang sempat digadang-gadang menjadi penantang Scudetto di awal musim.
Menurut Sabatini, para pendukung Milan sebenarnya sudah terlalu sabar melihat performa tim yang terus memburuk dalam dua bulan terakhir.
“Para tifosi bersikap tanpa belas kasihan, tetapi mereka benar. Bahkan mereka terlalu sabar terhadap tim yang sebelumnya sempat memberi ilusi perebutan Scudetto,” lanjutnya.
Sabatini menilai akar masalah Milan sudah terlihat sejak bursa transfer musim panas lalu.
Ia menyebut manajemen terlalu fokus menyeimbangkan keuangan klub demi menjaga pemasukan dari Liga Champions, ketimbang membangun skuad yang benar-benar kompetitif.
“Milan menutup bursa transfer dengan keuntungan sekitar 60 juta euro atau sekitar Rp1,02 triliun dan berharap semuanya bisa diselesaikan hanya dengan kedatangan Allegri, Modric, dan Rabiot,” tulisnya, menggunakan kurs €1 = Rp17.000.
Baca Juga:Curva Sud Tuding Furlani Hancurkan Tim Scudetto AC Milan: Mereka Menginjak-injak Sejarah MilanProtes Curva Sud AC Milan di San Siro: Usir Furlani dan Nyanyikan Lagu untuk Paolo Maldini
Padahal, menurutnya, Milan musim lalu hanya finis di posisi kedelapan Serie A dan membutuhkan perubahan besar untuk kembali bersaing di papan atas.
“Selama satu putaran kompetisi mereka mampu bertahan, bahkan tampil di luar ekspektasi. Namun setelah itu, kebohongan besar tersebut akhirnya terbongkar,” tambah Sabatini.
Ia kemudian mengulas performa individu pemain Milan satu per satu saat dikalahkaan Atalanta di kandang.
Mike Maignan disebut tidak sepenuhnya bersalah atas kekalahan tim, tetapi juga tidak lagi mampu menjadi penyelamat seperti musim-musim sebelumnya.
Di lini belakang, Sabatini menilai Koni De Winter tampil paling reaktif meski masih kesulitan menghadapi tekanan dari Giacomo Raspadori.
