Sementara itu, Matteo Gabbia dinilai menjadi simbol ketakutan dan kecemasan yang kini menyelimuti skuad Milan.
“Gabbia merangkum seluruh kecemasan Milan yang berubah menjadi rasa takut murni,” tulis Sabatini.
Untuk Strahinja Pavlovic, ia mengakui bek Serbia itu menunjukkan semangat besar, meski tetap tampil ceroboh.
Baca Juga:Pertama dalam Sejarah, Barcelona Raih Gelar Liga Spanyol dengan Mengalahkan Real MadridMengapa AC Milan yang Lolos ke Liga Champions Jika Punya Poin yang Sama dengan AS Roma dan Como
Gol yang dicetak Pavlovic dianggap indah, tetapi sia-sia karena tidak mampu mengubah hasil pertandingan.
Di lini tengah, Ruben Loftus-Cheek disebut tampil seperti “bayangan” dirinya sendiri. Tubuh besarnya tidak lagi memberikan dominasi fisik seperti yang diharapkan.
Sedangkan Samuele Ricci dianggap memulai laga dengan terlalu gugup sebelum perlahan membaik di babak kedua.
Sabatini juga memuji usaha Adrien Rabiot yang dinilai berulang kali mencoba menyeret Milan keluar dari tekanan, meski usahanya sering berakhir sia-sia karena rekan-rekannya kehilangan kepercayaan diri.
Namun sorotan paling tajam diarahkan kepada Rafael Leao. Pemain asal Portugal itu dianggap menjadi simbol kemunduran Milan musim ini.
“Kasus sebenarnya malam itu adalah Rafa Leao. Di babak pertama dia kehilangan semua bola yang disentuhnya dan menyia-nyiakan satu-satunya peluang yang dimiliki,” tulis Sabatini.
Ia bahkan menyebut Leao kini berubah dari pemain pembeda menjadi beban bagi tim.
Baca Juga:Curva Sud Tuding Furlani Hancurkan Tim Scudetto AC Milan: Mereka Menginjak-injak Sejarah MilanProtes Curva Sud AC Milan di San Siro: Usir Furlani dan Nyanyikan Lagu untuk Paolo Maldini
“Di atas kertas dia seharusnya menjadi pemain tambahan yang menentukan. Namun di lapangan, dia kini justru selalu menjadi pemain yang merugikan tim.”
Di tengah buruknya performa mayoritas pemain, Sabatini menilai Santiago Gimenez menjadi salah satu sedikit pemain Milan yang pantas mendapat apresiasi karena terus berjuang sepanjang pertandingan.
Selain Gimenez, Christopher Nkunku juga dianggap tampil cukup baik setelah mencetak gol penalti dan sempat membentur mistar gawang.
Meski demikian, Sabatini menegaskan semua usaha itu tetap tidak cukup untuk menutupi kenyataan bahwa Milan kini sedang runtuh.
“Tempat di Liga Champions masih mungkin secara matematika. Namun Milan ini sudah tidak kuat lagi. Mereka terseok-seok dan perlahan tergelincir menuju jurang di luar empat besar,” tulisnya.
Di akhir editorialnya, Sabatini menegaskan bahwa tanggung jawab atas krisis Milan tidak hanya berada di pundak pemain atau pelatih semata.
