PANGANDARAN, RADARTASIK.ID—Kelompok petani muda di Padaherang Pangandaran menyulap lahan kosong menjadi ladang hidroponik untuk menanam selada. Ladang itu jadi modal mereka untuk menjadi pemasok sayur ke SPPG untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Ketua Kelompok Taruna Tani Mekar Bayu Kusnandar mengatakan bahwa pihaknya membangun kebun selada mini dengan metode hidroponik. Aktivitas itu baru dimulainya sejak 2025 kemarin, saat kehadiran program MBG membuat komoditas sayuran semakin dilirik.
Melihat peluang tersebut, Kusnandar memanfaatkan halaman belakang rumahnya menjadi kebun selada. Belajar secara otodidak melalui YouTube, ia merintis usahanya dari satu papan hidroponik.
Baca Juga:Lokasi Menentukan KonsekuensiCerita ASN Membiayai Musda!
Melalui kelompok Taruna Tani Mekar Bayu, Kusnandar mengajak pemuda setempat untuk melek dunia pertanian, salah satunya melalui sistem hidroponik. Budidaya selada menjadi fokus penanaman saat ini lantaran permintaan pasar lokal yang cukup tinggi.
“Alasan menanam seladah dengan sistem hidroponik karena metode ini dinilai lebih efisien ramah lingkungan dan mampu menghasilkan produk yang lebih bersih segar serta berkualitas tinggi,” ungkapnya kepada Radar saat dihubungi Jumat (24/4/2026).
Kata dia, permintaan sayuran selada hidroponik miliknya diburu dapur dan pedagang pasar. “Karena bagus kualitasnya dan tidak terlalu banyak yang dibuang,” katanya.
Ia mengaku, pada awal merintis, dirinya sempat kesulitan mencari pembeli karena masalah kepercayaan dan belum banyak yang tahu. “Dulu mah buat kebutuhan sendiri, paling yang beli tetangga,” ucapnya.
Namun, setelah beberapa bulan mencoba menawarkan ke dapur MBG, produknya diterima dan ia diminta memproduksi lebih banyak. “Setelah itu saya bangun kelompok tani biar pemberdayaan warga setempat,” katanya.
Ia menambahkan, dalam satu hari, produksi dari lahan yang ada saat ini mencapai lebih dari satu kuintal selada. “Alhamdulillah sekali kirim kelompok kami bisa mencapai 1 kwintal, dengan masa panen sehari sekali, karena usia sebidang hidroponiknya beda-beda bisa tiap hari panen,” terangnya.
Menurutnya, permintaan pasar dalam sehari mencapai dua kuintal, namun ia baru sanggup memenuhi satu kuintal.
Baca Juga:Muscab PPP Terancam Gagal!Sundawani Kota Tasikmalaya Optimis Kesenian Sunda Lebih Lestari di Era Gen Z dan Alpha
Dari hasil penjualan, kata Kusnandar, uang penghasilan digunakan untuk pengembangan kebun. “Perbaikan-perbaikan fasilitas hidroponik dan honor kelompok, kita bagi hasil rata,” katanya.
