Cerita ASN Membiayai Musda!

Asn membiayai musda ppp
Ilustrasi AI
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Isu itu datang tanpa aba-aba. Tidak lewat undangan resmi. Tidak juga lewat laporan. Ia datang lewat jalur paling ampuh di republik ini: bisik-bisik yang terdengar terlalu jelas untuk disebut rahasia.

Awalnya sederhana. Tentang satu peristiwa politik kecil yakni sebuah musyawarah daerah di singkat–Musda. Bukan musda partai politik. Bukan juga musda organisasi besar nasional. Hanya musda yang menjadi wadah himpunan berbagai organisasi.

Tapi, seperti biasa, yang namanya kontestasi—sekecil apa pun—tetap butuh satu hal yang tidak pernah kecil: anggaran.

Baca Juga:Muscab PPP Terancam Gagal!Sundawani Kota Tasikmalaya Optimis Kesenian Sunda Lebih Lestari di Era Gen Z dan Alpha

Begini ceritanya. Ada seorang kandidat. Semangatnya membara. Ambisinya tidak disembunyikan. Ia ingin menang. Ia ingin memimpin. Ia ingin duduk di kursi ketua, yang meski tidak empuk, tetap punya gengsi.

Masalahnya satu: biaya. Maka bergeraklah tim pemenangan. Mereka tahu, mencari dukungan suara itu penting. Tapi mencari dukungan dana jauh lebih mendesak.

Dan seperti dalam banyak cerita klasik, donatur pun ditemukan. Tidak lama. Tidak bertele-tele. Support datang.

Puluhan juta rupiah. Ditransfer. Masuk rekening. Rapi. Tanpa kontrak. Tanpa proposal tebal. Tanpa kalimat-kalimat panjang berisi janji.

Hanya angka. Dan keyakinan bahwa angka itu cukup membuat roda bergerak. Uang itu pun dipakai. Untuk kebutuhan kontestasi. Konsolidasi jalan. Pertemuan terjadi. Logistik disiapkan. Mesin dukungan mulai berputar.

Lalu hari pemilihan tiba. Hasilnya: menang. Aman. Tidak ada kegaduhan. Tidak ada gugatan. Semua berjalan apa adanya. Seperti air mengalir di selokan yang tidak tersumbat.

Sampai satu hari. Tetiba muncul cerita baru. Ada seseorang yang datang menagih.Masih cukup muda. Seorang birokrat. Pangkatnya tidak kecil. Namanya cukup dikenal. Sayangnya, lebih sering dikenal dalam nada yang negatif daripada prestasi.

Baca Juga:BUDI BARU!Ramalan Cuaca di Tubuh PPP Kota Tasikmalaya

Ia menagih. Ia meminta segera dikembalikan uang yang pernah ia transfer ketika hendak musda. Ramai lah. Cerita menyebar seperti api kena bensin. Dari satu sudut ke sudut lain. Dari satu grup ke grup berikutnya. Nama-nama mulai disebut. Ada yang benar. Banyak yang sekadar ikut disebut.

Padahal, bukti yang beredar hanya satu: catatan transfer. Tidak ada perjanjian. Tidak ada kuitansi politik. Tidak ada barbuk lain yang menguatkan. Hanya angka. Dan tanggal. Sisanya: tafsir liar. Cerita makin melebar.

0 Komentar