Orang-orang penting mulai ikut terseret. Ada yang merasa tersinggung. Ada yang merasa tidak tahu-menahu. Ada pula yang memilih diam—diam yang lebih sering berisik daripada bicara.
Yang membuat publik makin penasaran justru satu hal sederhana: Dari mana uang itu berasal? Ini bukan pertanyaan remeh.
Yang men-transfer disebut seorang birokrat. Eselon III. Bukan politisi. Bukan pengusaha besar. Bukan pejabat pusat dengan akses dana besar.
Baca Juga:Muscab PPP Terancam Gagal!Sundawani Kota Tasikmalaya Optimis Kesenian Sunda Lebih Lestari di Era Gen Z dan Alpha
Tapi kemampuannya men-support dana disebut cukup fantastis. Puluhan juta. Bahkan kabarnya mendekati ratusan juta. Publik pun mulai berhitung.
Berapa sebenarnya gaji seorang pejabat eselon III? Berapa tunjangannya? Berapa yang bisa disisihkan setiap bulan? Kalau menabung dari gaji, berapa tahun harus menunggu agar terkumpul angka sebesar itu? Atau jangan-jangan itu warisan keluarga Kalau warisan, warisan dari siapa? Kalau tabungan, tabungan dari mana? Kalau bukan keduanya… maka pertanyaannya akan semakin panjang. Dan semakin sensitif.
Yang lebih menggelitik adalah: untuk apa seorang birokrat men-support kontestasi politik organisasi? Apa kepentingannya?Apa hubungannya? Apa yang diharapkan?Karena di republik ini, satu hal yang jarang terjadi adalah uang keluar tanpa tujuan.
Terlebih dalam dunia kontestasi. Lebih menggelikan lagi: setelah support diberikan, lalu ditagih kembali. Seperti meminjamkan payung saat hujan, lalu memintanya kembali saat hujan belum reda.
Kalau benar uang ratusan juta itu dipakai untuk kepentingan politik sesaat—tanpa hitung-hitungan matang—maka itu bukan sekadar kelalaian.
Itu bisa disebut kecerobohan mahal. Atau mungkin… keberanian yang terlalu nekat. Publik tentu berhak bertanya. Tidak dengan emosi. Tidak dengan tuduhan.
Tapi dengan logika sederhana: Berapa gaji pejabat eselon III? Berapa tunjangan resminya? Dan berapa logisnya ia bisa menyisihkan dana sebesar itu? Karena dalam banyak kasus di negeri ini, masalah bukan selalu pada angka.
Baca Juga:BUDI BARU!Ramalan Cuaca di Tubuh PPP Kota Tasikmalaya
Masalahnya sering ada pada asal-usul angka itu. Kini isu itu mulai mereda. Tidak benar-benar hilang. Hanya turun volume. Seperti radio tua yang dipelankan suaranya.
Tapi satu hal tetap tinggal di kepala publik: Kalau uang bisa masuk diam-diam ke sebuah kontestasi, maka suatu hari ..tagihannya bisa datang dengan suara yang jauh lebih keras.
