TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di tengah menjamurnya kafe estetik di Kota Tasikmalaya, satu sudut mencoba melawan arus: bukan sekadar menjual kopi dan ambience, tapi juga menyelipkan nurani.
Langgam Coffee and Book menghadirkan program donasi mikro bertajuk “Buku untuk Siswa Tasikmalaya”—cukup Rp2.000 per transaksi.
Nominalnya kecil, nyaris seharga parkir. Tapi dari situlah, upaya membuka akses literasi bagi anak-anak perlahan dirajut.
Baca Juga:Polisi di Kota Tasikmalaya Tebar Pesan Humanis saat Nobar Persib vs Arema358 Petinju Adu Jotos di Boxing Van Java Tasikmalaya, Ring Jadi Penawar Tawuran
Chief Communication Officer (CCO) Langgam Pustaka, Agus Salim, menegaskan donasi ini bersifat sukarela.
Tak ada paksaan, hanya tawaran di meja kasir—sebuah pilihan sederhana di antara kopi dan kepedulian.
“Tidak memaksa. Kita hanya menawarkan saja. Kalau berkenan, silakan ikut berdonasi,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Dalam tiga bulan terakhir, puluhan buku berhasil dihimpun dan disalurkan ke sejumlah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kota Tasikmalaya.
Jumlahnya memang belum signifikan, tapi cukup menjadi pengingat: akses literasi masih harus ditopang dari recehan.
Agus menyebut, gagasan ini lahir dari kegelisahan sederhana. Ia menyinggung kebiasaan masyarakat membayar pajak tanpa benar-benar tahu ke mana arahnya.
“Kita kadang tidak tahu pajak kita disalurkan ke mana. Dari situ kami berpikir, kenapa tidak membuat skema kecil yang langsung terasa manfaatnya,” katanya.
Baca Juga:Cing Eling Jadi Alarm Moral Persit Kodim 0612 Tasikmalaya, Dari Rutinan Jadi Refleksi HidupKolam Dikuras, Ikan Raib: Aksi Senyap Maling di Mangkubumi Tasikmalaya
Dari sana, konsep donasi mikro yang transparan pun dijalankan. Buku yang terkumpul tak sekadar jadi pajangan rak, melainkan langsung disalurkan ke TBM yang membutuhkan.
Sebuah langkah kecil dari sektor usaha, yang diam-diam menambal lubang besar di dunia literasi.
Namun, jalan tak selalu lapang. Penyaluran langsung ke sekolah masih terbentur birokrasi.
Hingga kini, distribusi difokuskan ke TBM, sementara akses ke sekolah formal masih menunggu pintu administrasi terbuka.
“Kami ingin juga bisa langsung ke sekolah, tapi memang ada tahapan administrasi yang harus dilalui, dan itu butuh waktu,” ucap Agus.
Di kota yang kafenya tumbuh lebih cepat daripada taman bacaan, program ini terasa seperti ironi yang dirawat: literasi digerakkan dari sisa kembalian, bukan dari sistem yang seharusnya menopang. (ayu sabrina barokah)
