Rencana ekspansi hingga 12 rombel pun harus ditahan—bukan karena ruang kelas kurang, melainkan jalan yang tak kunjung ada.
“Fasilitas sekolah siap. Tapi akses jadi kendala utama. Mau nambah rombel juga jadi serba ragu,” kata Nanang.
Sekolah yang berlokasi di Jalan Gunung Cihcir, Rancsengang, Kecamatan Bungursari itu kini praktis terisolasi. Dikelilingi lahan pribadi dan aktivitas tambang pasir, sekolah bergantung pada jalur alternatif yang tidak permanen.
Baca Juga:Polisi di Kota Tasikmalaya Tebar Pesan Humanis saat Nobar Persib vs Arema358 Petinju Adu Jotos di Boxing Van Java Tasikmalaya, Ring Jadi Penawar Tawuran
Salah satunya melalui jalan sempit di Perumahan Wijaya Agape. Jalur lain melintasi area tambang, yang sewaktu-waktu dipasangi portal. Akses pun jadi seperti “tamu tak diundang”—boleh lewat, tapi tak selalu diterima.
Saat hujan, jalur berubah jadi kubangan licin. Saat kemarau, debu tebal beterbangan, mengaburkan pandangan sekaligus mengancam kesehatan. Di tengah kondisi itu, siswa tetap datang dan pulang, menempuh risiko yang sama setiap hari—seolah keselamatan menjadi urusan pribadi, bukan prioritas bersama. (ayu sabrina barokah)
