TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Peringatan Hari Kartini di Kota Tasikmalaya tahun ini tak lagi sekadar parade kebaya dan seremoni tahunan.
Putik Perempuan Indonesia justru menggeser fokus: dari simbol menuju substansi, dari panggung ke layar—tempat perempuan kini bertarung dengan algoritma dan ekspektasi sosial.
Founder Putik Perempuan Indonesia, Naza Fitri, menegaskan bahwa makna perjuangan Raden Ajeng Kartini telah berevolusi.
Baca Juga:Polisi Tetapkan 4 Tersangka Penganiayaan Pedagang Bakso di Kota TasikmalayaSeleksi Popwilda Kota Tasikmalaya Diserbu 140 Pelajar, Bidik 20 Pemain Terbaik
Jika dulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan dasar, kini perempuan dihadapkan pada tantangan yang lebih “sunyi” namun kompleks: literasi digital, kesetaraan kerja, hingga kesehatan mental.
“Kartini masa kini bukan lagi soal bisa sekolah atau tidak. Tapi soal berani memilih jalan hidup, menguasai teknologi, dan tidak terjebak stigma antara karier atau keluarga,” ujar Naza, Selasa (21/4/2026).
Ia menyebut, tafsir “Habis Gelap Terbitlah Terang” kini tak cukup dimaknai sebagai keluar dari keterbatasan.
Lebih dari itu, perempuan dituntut berani bersuara, mengambil peran strategis, dan mandiri di tengah derasnya arus perubahan sosial.
Putik Perempuan Indonesia memetakan tiga isu utama yang menjadi “PR” perempuan hari ini.
Pertama, kemandirian ekonomi berbasis digital. Perempuan didorong memanfaatkan teknologi untuk membuka peluang usaha, bahkan dari ruang tamu rumahnya—tempat yang dulu dianggap batas, kini jadi titik awal.
Kedua, solidaritas antarperempuan. Pola pikir kompetisi mulai ditinggalkan, berganti kolaborasi.
Konsep women supporting women menjadi jawaban atas ironi lama: perempuan yang justru saling menjatuhkan.
Baca Juga:CFD ASN Kota Tasikmalaya Belum Efektif dan Masih Banyak EvaluasiDisrupsi Media Sosial Gerus Budaya, KPID Jawa Barat: Konten Lokal Terancam
Ketiga, kesehatan mental. Di tengah tuntutan multitasking—yang sering kali lebih mirip tekanan terselubung—kesadaran untuk beristirahat dan menetapkan batas menjadi bagian penting dari ketahanan diri.
Organisasi ini juga menegaskan perannya sebagai ruang pemberdayaan, membuka akses belajar, berbagi pengalaman, hingga memperluas jejaring lintas latar belakang.
Tujuannya satu: perempuan tak lagi sekadar hadir, tapi benar-benar punya kendali atas masa depannya.
Bagi Putik Perempuan Indonesia, setiap perempuan memiliki cara masing-masing untuk menjadi “Kartini”.
Bedanya, jika dulu surat menjadi medium perjuangan, kini layar digital adalah panggungnya—dan tantangannya, sering kali lebih tak terlihat, tapi nyata terasa. (ayu sabrina barokah)
