Disrupsi Media Sosial Gerus Budaya, KPID Jawa Barat: Konten Lokal Terancam

konten lokal kalah saing dengan media sosial
Nyemah Atikan Penyiaran: Regulasi Konten Lokal & Masa Depan Penyiaran di Priangan Timur yang digelar KPID Jawa Barat di Aula Bale Priangan, Gedung Bank Indonesia Tasikmalaya, Selasa (21/4/2026). Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Namun ia optimistis kegiatan ini menjadi titik awal kebangkitan perhatian terhadap daerah.

“Awalnya saya sempat sedih, tapi sekarang optimis. Ini awal yang baik untuk Priangan Timur dan Kota Tasikmalaya,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya peran pers lokal yang dinilai lebih memahami potensi daerah dibanding sebagian pemimpin.

Baca Juga:700 Bonsai Siap Bertarung di Kota Tasikmalaya, Harga Bisa Mencapai Rp 800 JutaAkhirnya Saling Lapor! Kasus Dugaan Asusila Berujung Penculikan Pedagang Bakso di Kota Tasikmalaya

Bahkan dengan nada satir, ia menyebut tak jarang pers justru lebih “menguasai wilayah” daripada pemimpinnya sendiri.

“Bisa jadi pers lebih tahu daerahnya. Kadang pemimpin hanya jadi tamu di wilayahnya sendiri,” ucapnya.

Diky turut mengingatkan agar ekosistem penyiaran tidak justru melemahkan literasi masyarakat.

Ia menyoroti kecenderungan masyarakat yang semakin dimanjakan dengan tontonan instan, sehingga minat membaca menurun.

“Kalau semua serba lihat dan dengar, membaca jadi berat. Padahal literasi itu fondasi kecerdasan,” jelasnya.

Ia pun mendorong agar insan penyiaran dan pers tetap menjaga independensi serta menyajikan informasi secara tulus dan objektif, tanpa terjebak kepentingan tertentu.

Kegiatan ini menjadi penegas bahwa masa depan penyiaran di Priangan Timur, termasuk Kota Tasikmalaya, tidak hanya ditentukan oleh regulasi, tetapi juga oleh kesadaran kolektif dalam menjaga identitas budaya di tengah derasnya arus digital yang—pelan tapi pasti—menggerus nilai-nilai lokal. (rezza rizaldi)

0 Komentar