Namun bantahan itu berbenturan dengan pengakuan E yang merasa mengalami sentuhan tidak pantas.
Di sisi lain, Windi mengungkap kliennya justru menjadi korban kekerasan. S disebut mengalami penganiayaan di dua lokasi, termasuk di sebuah rumah di kawasan Benda.
Tak hanya dipukul, korban juga mengaku disiksa—dioles balsem dan cabai, hingga dipaksa mengakui perbuatan yang ia bantah.
“Bahkan dipaksa membuat video pengakuan,” kata Windi.
Baca Juga:Kasus Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Diculik karena Dugaan Asusila Dilaporkan ke Polisi, ini Pengakuan SaksiTiga Periode Tanpa Banyak Suara!
Polisi pun mengakui kasus ini bak “film dua alur” yang berjalan bersamaan. Kasatreskrim Polres Tasikmalaya Kota, AKP Herman Saputra, menyebut pihaknya masih mendalami kedua versi tersebut.
“Semua masih kami verifikasi. Baik dugaan asusila maupun kekerasannya,” ujarnya.
Hingga kini, penyidik menduga sedikitnya empat orang terlibat dalam aksi penganiayaan. Namun, soal unsur penculikan, polisi belum bisa memastikan terpenuhi atau tidak.
Di Kota Tasikmalaya, semangkuk bakso yang biasa jadi penghangat malam, kini berubah jadi panggung konflik: antara tuduhan yang bersandar pada rasa, dan pembelaan yang berpegang pada logika.
Di tengahnya, hukum dituntut hadir—bukan sekadar sebagai penonton, tapi penjernih dari kisah yang kian keruh. (rezza rizaldi)
