Ibu-Ibu Kota Tasikmalaya Lawan Sepi Literasi Anak

kegiatan literasi anak di Kota Tasikmalaya
Para ibu bergantian membaca nyaring buku di Komunitas Tasik Read Aloud. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di sudut Jalan Pemuda, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, suara bacaan anak bukan sekadar bunyi—ia seperti perlawanan kecil terhadap sunyinya budaya literasi.

Senin (20/4/2026), Studio Buleud Komunitas Cermin menjadi ruang temu ibu-ibu yang memilih melawan gawai dengan halaman buku.

Mereka duduk melingkar, membaca nyaring. Anak-anak di sekitar tak dipaksa diam. Ada yang menyimak, ada yang mendekat, bahkan ada yang sekadar menunjuk gambar. Suasana cair—lebih mirip ruang bermain ketimbang kelas.

Baca Juga:Spanduk “Tuyul” di Kebon Kembang Kota Tasikmalaya Dicopot, Keresahan Warga MeredaSentuhan di Balik Papan: Versi Korban Perempuan Dugaan Asusila Berujung Penculikan di Kota Tasikmalaya

Gerakan ini digagas Tasik Read Aloud, komunitas yang mengusung metode membaca nyaring sebagai pintu masuk literasi anak. Bukan hafalan, bukan target bisa membaca cepat. Yang dikejar justru rasa suka.

Di sela bacaan, aktivitas lain ikut mengalir. Anak-anak diajak bereksplorasi seni di sanggar. Buku, cerita, dan kreativitas dilebur tanpa sekat.

Belajar tak lagi terasa seperti kewajiban, melainkan pengalaman yang menyenangkan.

Salah satu peserta, Murti Widyaningsih, tampak aktif berbagi. Ia datang membawa buku, lalu membagikan inti ceritanya kepada yang lain.

Baginya, membaca bukan soal selesai halaman demi halaman, tapi bagaimana cerita itu hidup dan berpindah tangan.

“Saya senang mengumpulkan buku, lalu dibagikan inti ceritanya ke yang lain,” ujarnya.

Dari kebiasaan itu, tumbuh ruang berbagi. Para ibu saling bertukar bukan hanya buku, tetapi juga cara mendampingi anak.

Mereka membaca bergantian, berdiskusi ringan, hingga bereksperimen dengan gaya bercerita. Tak ada tuntutan sempurna—cukup anak tertarik, itu sudah cukup.

Baca Juga:Kasus Tukang Bakso di Kota Tasikmalaya Diculik karena Dugaan Asusila Dilaporkan ke Polisi, ini Pengakuan SaksiTiga Periode Tanpa Banyak Suara!

Tasik Read Aloud membawa pesan sederhana: minat baca tak lahir dari paksaan. Anak-anak diajak lebih dulu menikmati cerita. Dari sana, kedekatan dengan buku perlahan tumbuh.

Interaksi kecil pun jadi penanda. Anak bertanya, menirukan suara tokoh, atau menunjuk gambar favorit.

Para ibu menyesuaikan—kadang dramatis, kadang berhenti untuk menjelaskan. Literasi, di sini, bukan teori. Ia hidup.

Komunitas ini juga mengenalkan istilah “piknik buku”—membaca dalam suasana santai, tanpa tekanan. Sebuah cara halus untuk menggeser stigma bahwa membaca adalah tugas.

0 Komentar