TASIKMALAYA, RADARTASIK. ID – Suasana di Hotel Mandalawangi hari itu tidak seperti biasanya. Tidak ada ketenangan yang cepat selesai.
Tidak ada aklamasi yang langsung mengunci keputusan. Yang ada justru suara-suara interupsi yang datang silih berganti.
Seperti ombak yang terus memukul pantai.
Bagi sebagian kader Partai Persatuan Pembangunan Kota Tasikmalaya, Musyawarah Cabang kali ini terasa melelahkan.
Baca Juga:Sekjen SPP Agustiana Tanggapi Dugaan Penganiayaan Tokoh Agama Desa Cayur Cikatomas, Begini KatanyaBesok PPP Kota Tasikmalaya Memilih Ketua Sekaligus Menentukan Nasibnya!
Tapi bagi Anggota Majelis Pakar DPC PPP Kota Tasikmalaya, Ihsan B Nadirin, justru di situlah letak keindahannya.
Ia menyebut Muscab kali ini sebagai sesuatu yang sangat menarik. Bahkan berbeda jauh dari yang pernah ia lihat selama ini.
“Saya belum pernah melihat suasana seperti ini. Biasanya aklamasi, menunjuk pimpinan langsung di tempat. Tapi sekarang sangat berbeda,” katanya pelan, seperti sedang mengulang ingatan yang masih hangat.
Selama bertahun-tahun, Muscab PPP di Kota Tasikmalaya identik dengan aklamasi. Cepat. Singkat. Langsung selesai. Seperti upacara formal yang sudah diketahui ujungnya.
Tapi kali ini, suasana berubah total. Muscab tidak lagi seperti seremoni. Ia berubah menjadi arena argumentasi. Interupsi datang tanpa jeda. Argumen saling bersahutan. Data demi data dibuka di hadapan forum.
“Terkesan semua ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil benar-benar berdiri di atas dasar aturan,” ungkap Ihsan.
Semua bermula dari satu peristiwa yang memancing perhatian: pemecatan dua pengurus PAC dan satu badan otonom partai. Keputusan itu menjadi pintu masuk bagi perdebatan panjang. Tidak sekadar soal orang. Tapi soal prinsip.
Baca Juga:Kehilangan Rasa Malu!Wabup yang Jarang Diam!
Dalam forum itu, satu istilah terus diulang: kolektif kolegial. Prinsip yang selama ini tertulis rapi di dalam AD/ART partai. Tapi mungkin tidak selalu dibaca dengan seksama.
Kini, prinsip itu seperti dihidupkan kembali. Diperdebatkan. Ditafsirkan. Diuji. Menurut Ihsan, inilah yang membuat Muscab kali ini terasa sangat berbeda.
Berbagai kelengkapan administrasi disajikan secara faktual. Dokumen diperlihatkan. Data dibuka. Akuntabilitas dipertanyakan dengan teliti oleh pimpinan sidang.
Tidak ada yang dibiarkan lewat tanpa verifikasi. Tidak ada yang diterima tanpa pembuktian. Bagi sebagian peserta, proses ini terasa lambat. Bahkan melelahkan.
