Tapi bagi Ihsan, justru di situlah letak pelajaran besarnya. Muscab kali ini berjalan alot. Penuh drama. Ketegangan terasa di hampir setiap sesi. Kadang suara meninggi. Kadang wajah menegang. Kadang suasana seperti hendak pecah.
Namun di balik semua itu, Ihsan melihat sesuatu yang lebih dalam. Ia melihat proses pembelajaran demokrasi.
“Inilah demokrasi sesungguhnya,” ujarnya.
Bukan demokrasi yang sunyi. Bukan demokrasi yang hanya formalitas. Tapi demokrasi yang hidup. Yang berani berbeda pendapat. Yang berani mempertanyakan. Yang berani membuka data.
Baca Juga:Sekjen SPP Agustiana Tanggapi Dugaan Penganiayaan Tokoh Agama Desa Cayur Cikatomas, Begini KatanyaBesok PPP Kota Tasikmalaya Memilih Ketua Sekaligus Menentukan Nasibnya!
Menurutnya, pengalaman seperti ini memberi dampak positif bagi kematangan demokrasi di tubuh PPP Kota Tasikmalaya.
Sebuah pembelajaran yang mungkin tidak nyaman, tapi sangat penting.
Meski Muscab telah selesai digelar, hasil akhirnya belum benar-benar lahir. Prosesnya kini diambil alih oleh DPW PPP Jawa Barat. Dan keputusan akhir akan berada di tangan Dewan Pimpinan Pusat Partai Persatuan Pembangunan.
Bagi banyak kader, masa menunggu seperti ini bukan perkara mudah. Semua ingin tahu siapa yang akan memimpin. Siapa yang akan membawa arah baru.
Tapi Ihsan memilih melihatnya dengan cara berbeda. Ia tidak terlalu tergesa menunggu nama. Yang lebih penting baginya adalah niat dari siapa pun yang nanti terpilih.
Bagi Ihsan, jabatan ketua bukan sekadar kursi. Ia adalah amanah. Ia berharap, siapa pun yang nanti ditunjuk menjadi Ketua PPP Kota Tasikmalaya harus memiliki niat tulus.
Ikhlas. Dan siap bekerja keras.
Bukan hanya memimpin secara administratif. Tapi membesarkan partai dengan sungguh-sungguh. Mengembalikan marwah PPP yang pernah berjaya.
Dan meraih kejayaan yang mungkin sempat menjauh. Ia juga menekankan satu hal yang terasa penting di tengah dinamika ini: semangat persatuan. Ghirah persatuan, katanya, harus tetap dijaga.
Baca Juga:Kehilangan Rasa Malu!Wabup yang Jarang Diam!
Tanpa itu, kemenangan tidak akan pernah terasa utuh. Demokrasi yang Masih Terus Belajar Di akhir pembicaraan, Ihsan kembali mengingat suasana Muscab yang ia saksikan. Riuh. Tegang. Alot. Namun penuh pelajaran.
Ia melihat Muscab ini bukan sebagai kegagalan. Melainkan sebagai proses menuju kedewasaan. Sebuah perjalanan panjang menuju demokrasi internal yang lebih sehat.
