TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Saya membayangkan ini terjadi di kota lain. Di halaman depan kantor wali kota. Di jantung pemerintahan. Di tempat bendera merah putih berkibar setiap pagi.
Tapi ini bukan bayangan. Ini nyata. Ini terjadi di halaman depan Bale Kota Tasikmalaya. Celana dalam. Ya, celana dalam. Bergelantungan. Di jemuran. Di bawah tenda terpal yang tampak kosong. Seperti panggung yang kehilangan pemain.
Tapi properti panggungnya dibiarkan berantakan. Sudah hampir dua bulan. Dua bulan bukan waktu yang sebentar. Dua bulan itu 60 hari.
Baca Juga:Wabup yang Jarang Diam!Pemkab Tasikmalaya Masih Bungkam, Isu Cashback Pinjaman Daerah Belum Terjawab
Kalau dihitung jam, lebih dari 1.400 jam. Kalau dihitung kesempatan menyelesaikan, mungkin ribuan kali. Tapi tetap saja: jemuran itu masih ada. Di halaman depan. Di wajah pemerintah.
Di kota ini ada sekitar 5.000 ASN. Ada wali kota. Ada wakil wali kota. Ada Sekda. Nama wali kota itu Viman Alfarizi. Di sebelahnya ada wakil wali kota Diky Candra. Sekdanya Asep Goparulloh.
Jumlah orang yang punya kewenangan bukan sedikit. Jumlah tangan yang bisa bekerja bukan satu atau dua. Tapi kenapa jemuran itu tidak diangkut? Kenapa tidak dibereskan? Kenapa dibiarkan? Kenapa seolah tak punya malu? Pertanyaan itu terus berulang di kepala saya. Seperti suara tetesan air di ruang sepi. Kenapa bebal. Kenapa cuek. Kenapa masa bodoh.
Bale kota itu bukan halaman biasa. Itu simbol. Itu citra. Itu marwah. Di situlah wibawa pemerintah berdiri. Atau seharusnya berdiri. Kalau di halaman rumah pribadi ada jemuran celana dalam, itu biasa. Sangat biasa. Tidak ada yang aneh.
Tapi ini di halaman kantor wali kota. Di pusat pemerintahan. Tempat yang seharusnya bersih. Rapi. Berwibawa. Sekarang malah seperti halaman belakang kos-kosan.
Saya membayangkan satu orang tahu kejadian ini. Namanya Dedi Mulyadi.
Orang sering memanggilnya KDM. Gubernur Jawa Barat. Dia dikenal detail. Sangat detail. Sampah kecil di pinggir jalan saja bisa membuatnya turun dari mobil. Menegur. Mengangkat sendiri. Bagaimana kalau dia melihat ini?
Jemuran celana dalam di halaman bale kota. Bukan di gang sempit. Bukan di bantaran sungai. Tapi di wajah pemerintah.
