Kehilangan Rasa Malu!

Bale Kota Tasikmalaya
Jemuran celana dalam di luar pagar Bale Kota Tasikmalaya dibiarkan sudah dua bulan. (radartasik.id)
0 Komentar

Saya bisa membayangkan reaksinya. Marah besar. Bukan karena celana dalamnya. Tapi karena maknanya. Makna bahwa wibawa bisa runtuh oleh kelalaian kecil.

Saya juga bertanya pada diri sendiri:

Apakah ini soal sulit? Apakah memindahkan jemuran itu butuh anggaran miliaran? Apakah harus rapat berhari-hari?Apakah harus menunggu kajian akademis?

Tidak.

Ini soal keberanian mengambil keputusan kecil. Tapi berdampak besar pada wibawa.

Baca Juga:Wabup yang Jarang Diam!Pemkab Tasikmalaya Masih Bungkam, Isu Cashback Pinjaman Daerah Belum Terjawab

Kalau memang ada masalah di baliknya — entah sengketa, protes, atau bentuk aspirasi — tetap saja tidak boleh dibiarkan berlarut. Masalah boleh rumit. Tapi wajah pemerintah tidak boleh kumal.

Padahal, kekuatan wali kota ini tidak kecil. Viman Alfarizi punya jejaring kuat. Politik kuat. Sosial kuat. Ekonomi kuat. Ia kader ideologis Partai Gerindra.

Partai yang hari ini punya kursi presiden.

Punya gubernur Jawa Barat. Punya banyak kepala daerah. Instrumen kekuasaan ada. Jejaring ada. Pengaruh ada. Lalu apa lagi yang kurang? Kalau semua ada, kenapa jemuran itu tetap ada?

Saya selalu percaya: masalah kecil yang dibiarkan lama akan berubah menjadi simbol besar. Simbol ketidakpedulian. Simbol kelambanan. Simbol kehilangan rasa malu.

Bale kota bukan sekadar bangunan. Itu wajah kota. Kalau wajah kota dipenuhi jemuran celana dalam, maka yang rusak bukan sekadar pemandangan. Yang rusak adalah wibawa.

Lalu siapa yang bisa menyelesaikan?Harusnya satu orang cukup. Tidak perlu 5.000 ASN. Tidak perlu rapat panjang.

Cukup satu keputusan: angkut. rapikan. selesaikan.

Dan yang lebih penting: beri solusi terhadap akar masalahnya. Supaya tidak kembali lagi. Saya justru penasaran pada ending-nya. Apakah jemuran itu akan tetap di sana sampai bulan ketiga? Bulan keempat? Atau sampai ada tamu besar datang? Atau sampai seseorang benar-benar merasa malu?

Baca Juga:Mohon Izin, Pak Wali Kota Tasikmalaya Daftar Itu Mulai Beredar!Adegan Drama Pemkot Tasik!

Karena dalam pemerintahan, rasa malu itu penting. Tanpa rasa malu, wibawa akan runtuh pelan-pelan. Tanpa suara. Tanpa ledakan. Tapi pasti. (red)

0 Komentar