TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Pagi di Jalan Ir. H. Juanda kini terasa berbeda. Bukan karena lalu lintasnya lebih lengang. Justru sebaliknya.
Di beberapa titik pinggir jalan, deretan mobil tampak terparkir rapi. Seperti barisan yang tahu tempatnya. Diam. Tidak masuk halaman kantor.
Pemiliknya? ASN. Mereka turun dari mobil. Ada yang menutup pintu perlahan. Ada yang langsung merapikan tas. Lalu berjalan kaki menuju kantor Bale Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:Bupati "Pinjaman"Dua PAC PPP “Meninggal” Sebelum Waktunya!
Jaraknya tidak jauh. Tapi cukup untuk disebut “jalan kaki dari rumah” setidaknya secara visual.
Program Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi, memang sedang berjalan. Instruksinya jelas: pegawai diminta tidak menggunakan mobil dinas untuk datang ke kantor. Disarankan memakai sepeda, motor listrik, atau berjalan kaki.
Instruksi itu terdengar sederhana. Bahkan ideal. Kota ingin lebih ramah lingkungan. Lebih sehat. Lebih hemat energi. Sebagian ASN tampak mengikuti.
Ada yang datang membawa sepeda. Dikayuh dari titik tertentu. Ada pula yang berlari kecil. Seperti sedang olahraga pagi. Wajah mereka segar. Setidaknya terlihat begitu.
Namun di balik itu, muncul pemandangan yang memantik tanya. Mobil tetap datang. Hanya saja tidak masuk halaman kantor. Disimpan di pinggir jalan. Di luar area resmi.
Setelah itu, barulah pemiliknya berjalan kaki. Masuk kantor dengan langkah ringan. Seolah memang datang tanpa kendaraan.
Fenomena ini menjadi bahan bisik-bisik.
Ada yang menyebut ini kreativitas. Ada pula yang menyebutnya formalitas. Yang paling unik adalah soal sepeda.
Baca Juga:Tambang PAD di Kota Tasikmalaya Bernama Event!Pejabat Pemkab Tasikmalaya Membisu Soal Isu Cashback Pinjaman Rp230 Miliar
Ada ASN yang terlihat bersepeda menuju kantor. Rapi. Lengkap dengan helm. Tampak disiplin. Namun saat pulang, sepedanya tidak dikayuh lagi.
Sudah ada mobil yang menunggu. Sepeda diangkat. Dimasukkan ke bagasi. ASN itu pulang dengan nyaman. Duduk di kursi empuk kendaraan dinas atau kendaraan pribadi.
Pagi bersepeda. Sore dijemput. Satu hari. Dua gaya hidup. Pertanyaannya menjadi menarik: apakah ini benar perubahan perilaku, atau sekadar penyesuaian tampilan?
Program seperti ini memang sering menghadapi ujian di lapangan. Niatnya baik. Tujuannya mulia. Mengurangi penggunaan kendaraan dinas. Mendorong gaya hidup sehat. Mengurangi kemacetan. Bahkan bisa mengurangi emisi.
